currently listening : Long Time No See – Lim Chang Jung
CHAPTER 18
Ha-Ra. Autumn, 13 September 2008.
Aku tengah mengemasi barang-barangku yang masih berserakan di lantai ruang pakaian, ketika tiba-tiba suara yang sudah sangat familiar menyapa telingaku,“Noona mau kemana?”
“Pulang, tentu saja. Memangnya kemana lagi?” sahutku sembari memasukkan agenda dan pulpen ke dalam tas Miu Miu hijau toska yang baru kubelu bulan lalu. “Pekerjaanku hari ini sudah selesai.”
“Tapi kami masih ada siaran di MBC Radio malam ini,” ujar Sung-Ki dengan nada bossy yang terdengar sedikit menyebalkan.
“Iya, tapi aku tidak perlu ikut kan? Memangnya siapa yang memperhatikan penampilanmu saat siaran radio?” jawabku.
“Tapi ini kan viewable radio, Noona. Penampilan tetap penting!” Sung-Ki melipat kedua tangannya di depan dada. Bibirnya bergulung-gulung, jelas tampak keberatan kalau aku pulang sekarang.
“Iya, Kim Sung-Ki. Aku tahu,” sahutku cepat sembari menggertakkan gigi. Mulai tidak sabar dengan sikap Sung-Ki yang rewel itu. “Tapi kan aku sudah menyiapkan pakaianmu untuk acara nanti malam, jadi aku tidak ikut pun tidak masalah. Kalian kan tidak berganti-ganti pakaian disana.”
Meskipun aku sudah ceramah panjang lebar, Sung-Ki masih membandel. Ia malah berusaha memblokir pintu agar aku tidak bisa keluar. “Tapi, Noona…”
“Oh, sudahlah, Kim Sung-Ki. Kau lebih baik jangan menghalagi jalanku. Aku benar-benar mau pulang sekarang, pekerjaanku sudah selesai. Kalau tidak percaya tanya saja pada manajer-manajermu,” sambarku cepat sembari mendorong tubuhnya menjauh dari pintu. “Sudah ya, aku pulang dulu. Sampai jumpa besok, Sung-Ki ya!” Aku buru-buru melambai dan kabur ke pintu keluar sebelum Sung-Ki sempat merajuk lagi. Tapi, baru dua meter dari pintu apartemen New High, langkahku sudah dihentikan lagi oleh seorang pria jangkung yang baru keluar dari lift.
“Young-Jun ssi…” gumamku pelan, sementara rasa panas mulai menjalari pipiku untuk alasan yang sama sekali tidak jelas.
“Ah, Ha-Ra ssi, aku baru mau mencarimu,” ujar Young-Jun sembari tersenyum lebar. “Apa kau ada acara malam ini?”
“Aku.. tidak…”
“Aku ingin mengajak Ha-Ra ssi makan malam diluar,” sahut Young-Jun cepat, sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. “Aku juga yang akan mengantar Ha-Ra ssi pulang. Bagaimana?”
Setelah perang batin selama beberapa detik, aku akhirnya terpaksa mengangguk pasrah dan mengikuti Young-Jun ke mobilnya. Aku bukannya tidak mau pergi bersama Young-Jun. Dia masih tetap tampan seperti biasanya, masih tetap hangat dan bersahabat. Dia juga sama sekali bukan tipe yang memalukan untuk diajak makan malam bersama. Tapi berdekatan dengan Young-Jun seperti ini membuatku teringat pada percakapanku dengan ayahku dua hari yang lalu. Percakapan yang sangat membuatku tidak nyaman dan tidak bisa tidur semalaman. Saat itu, aku baru pulang kerja pukul sepuluh malam. Tadinya berniat langsung mandi dan tidur, tapi tiba-tiba ayahku memanggil dan mengajakku bicara empat mata.
“Ha-Ra, sudah saatnya kau dan Young-Jun mengumumkan pertunangan,” ujar ayahku. Ia menatapku dari balik kacamata bulatnya dengan ekspresi sangat serius.
“Pertunangan?” Aku membelalakkan mata, tak percaya dengan daya dengar telingaku sendiri. “Pertunangan apa? Aku sedang tidak ingin bercanda, Appa…”
Ayahku menghela nafas. “Untuk apa aku bercanda denganmu tentang masalah seperti ini?”
“Tapi aku dan Young-Jun ssi bahkan belum berpacaran, bagaimana bisa bertunangan begitu saja?” Aku mendadak panik mendengar gagasan tentang pertunangan ini.
“Kalian belum berpacaran? Kupikir aku sering melihatnya mengantarmu pulang setelah bekerja,” sahut ayahku sembari mengerutkan kening. Ia jelas-jelas mengira aku berbohong.
“Ya, memang. Dia memaksaku untuk itu berkali-kali. Tapi bukan berarti kami berkencan.” Aku bersikeras.
“Lalu kenapa kalian tidak mulai berkencan?” Ayahku mengangkat alisnya.
“Appa… aku sedang tidak ingin membicarakan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kencan…”
“Ha-Ra, sebaiknya kau mulai mempertimbangkan ideku untuk berkencan dengan Young-Jun. dia anak yang baik. Dan orang tuanya juga baik. Mereka sangat setuju kalau kau yang menjadi pendamping Young-Jun.”
“Dan Appa juga setuju? Appa mau memaksaku menikah dengan Young-Jun ssi?” tuntutku.
Ayahku menggeleng sembari melepas kacamatanya. “Tidak. Appa tidak mau memaksamu. Tapi alangkah baiknya kalau kau mencoba berkencan dulu dengannya, setidaknya, cobalah mengenalnya lebih jauh. Siapa tahu kalian berdua cocok dan…”
“Tapi, Appa… aku…”
“Cobalah berkencan dengannya dulu,” potong ayahku cepat. Ekspresi wajahnya mengatakan bahwa ia tidak ingin dibantah lagi. “Kau tahu, Nak, ayahmu ini sudah tua. Tidak tahu berapa lama lagi hidupnya. Aku hanya ingin melihatmu menikah dengan pria yang baik, sebelum aku mati.”
Alasan klasik orang tua jika ingin memaksa anaknya. Tapi nyatanya berhasil membuatku kehilangan kata-kata. Dan sampai sekarang, aku masih belum tahu apa yang harus kulakukan mengenai masalah Young-Jun ini. Bagaimana aku bisa mulai berkencan dengannya kalau aku masih belum bisa menerjemahkan perasaanku sendiri?
“Ha-Ra ssi… Kenapa melamun?”
++
Sung-Ki. Autumn, 13 September 2008.
“Hyong, dimana Young-Jun Hyong?” tanya Young-Min tiba-tiba. Kami sedang berada diatas van yang melaju ke stasiun MBC Radio.
“Oh… Young-Jun sedang ada urusan. Aku tidak tahu kemana, dia hanya meneleponku sebentar untuk mengatakan tentang urusan mendadak,” sahut Jin-Ni yang tampak acuh tak acuh menanggapi ‘menghilang’nya Young-Jun yang membuat ia harus bekerja mengurusi kami sendirian malam ini.
“Ha-Ra Noona juga tidak ada. Kemana dia?” tanya Young-Min lagi.
“Ha-Ra Noona sudah pulang, katanya sudah tidak ada kerjaan lagi malam ini.” Tiba-tiba aku mendengar suara yang mirip suaraku sendiri menjawab cepat. Rupanya reaksi spontanku bekerja sangat cepat setiap mendengar nama gadis itu.
“Ah, benar-benar tidak seru kalau pasukan kita tidak lengkap begini,” keluh Young-Min. Ia menekuk mukanya seperti anak berumur lima tahun yang ngambek karena tidak dibelikan es krim. “Young-Jun Hyong ada urusan, dan Ha-Ra Noona juga sudah pulang…”
Mendengar kalimat terakhir Young-Min, tiba-tiba otakku terbangun. Kenapa aku tidak sadar dari tadi kalau kali ini, lagi-lagi, Young-Jun menghilang secara misterius pada saat Ha-Ra juga tidak bersama kami? Apa ini semua hanya kebetulan saja? Tidak mungkin kan kalau mereka pergi bersama?
++
Ha-Ra. Autumn, 13 September 2008.
“Aku… sebenarnya ingin meminta Ha-Ra ssi menjadi pacarku.”
“A-apa?” Aku membelalakkan mata lebar-lebar. Sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dicerna telingaku sendiri. “M-memintaku menjadi…”
“Ya. Jadi pacarku,” sahut Young-Jun yakin, sembari memamerkan senyumnya yang luar biasa manis. Sementara kedua pipiku mulai dirambati semburat merah.
“Tapi kenapa… ini terlalu tiba-tiba…” Aku terbata-bata.
“Aku sudah lama menyukai Ha-Ra ssi,” ujar Young-Jun, masih sambil mempertahankan senyum manisnya yang membuatku semakin gugup.
Aku bergerak-gerak gelisah di tempat dudukku, tanpa bisa menjawab apa-apa. Ini persis dengan apa yang diinginkan ayahku. Tapi aku sama sekali belum memutuskan bagaimana perasaanku terhadap Young-Jun. Bagaimana ini? Bagaimana? Aku harus menjawab apa?
“Bagaimana, Ha-Ra ssi?” tanya Young-Jun sembari mengatupkan kedua telapak tangannya dan mencondongkan tubuh ke arahku dengan sikap tertarik.
Oh, Tuhan. Tolong aku.. bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Aku harus menjawab apa?
“Ah, baiklah.. sepertinya Ha-Ra ssi tidak meny…”
“Bukan begitu!” jawabku spontan. “Aku hanya…” Oh, Tuhan. Aku harus bicara apa?
“Hanya?” Young-Jun mengangkat alisnya.
“Aku hanya merasa… ‘berpacaran’ masih terlalu berlebihan…” sahutku pelan, sambil berusaha menyusun rangkaian kalimat yang tepat didalam kepalaku. “Maksudku… aku.. kita masih belum terlalu saling mengenal, jadi… kurasa…”
“Aku mengerti, Ha-Ra ssi,” jawab Young-Jun lembut. Laki-laki itu sama sekali tidak tampak marah ataupun terluka dengan ucapanku. Ia justru tersenyum lebar, seolah tidak terjadi apa-apa. “Kurasa… kita bisa mulai dengan ‘berkencan’ terlebih dulu, agar Ha-Ra ssi bisa mengenalku lebih baik. Bagaimana? Setuju?”
Aku memberanikan diri untuk menatap Young-Jun, sebelum memutuskan untuk menjawab. Aku ingin mencari kepastian dalam kedua matanya. Aku ingin meyakinkan perasaanku sendiri tentang semua ini.
“Ha-Ra ssi? Apa kau sedang melamun lagi?” Tiba-tiba Young-Jun angkat bicara lagi, membuatku terlonjak kaget.
“Ah, aku… tidak melamun.. aku hanya…” Aku mulai tergagap-gagap lagi.
“Lalu kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Young-Jun lembut. Ia tidak tampak kehilangan kesabarannya sama sekali meskipun sikapku terlalu berbelit-belit.
Aku mendongak dan menatap laki-laki dihadapanku itu sekali lagi. Mau tak mau, kekaguman dalam hatiku mulai timbul ke permukaan. Meskipun terkesan kaku dan malu-malu, Park Young-Jun sebenarnya laki-laki yang sangat dewasa dan penuh kelembutan. Dia juga sangat menghargai kepentinganku. Ia bahkan bersedia ‘berkencan dulu’ agar aku mendapat waktu lebih banyak untuk membuat keputusan yang lebih besar. Dan secara fisik, dia benar-benar tipe yang nyaris sempurna. Jadi, apa lagi yang bisa kuminta dari seorang pria?
“Ah, baiklah, Young-Jun ssi. Aku setuju.” Akhirnya aku mengangguk dan melebarkan senyum.
Sementara Young-Jun membelalakkan matanya. Ia jelas-jelas tampak gembira. “Benarkah? Kau setuju berkencan denganku?” tanyanya.
“Tentu saja,” jawabku mantap, sembari berusaha bersikap santai meskipun sebenarnya gugup setengah mati. “Dan bisakah kau memanggilku Ha-Ra saja? Ha-Ra ssi terdengar terlalu kaku.”
“Baiklah, Ha-Ra.” Ia tersenyum luar biasa manis, hingga seluruh wajahnya tampak berbinar-binar. Aku baru sekali melihat ekspesi Park Young-Jun yang seperti ini. “Dan kau juga bisa memanggilku Young-Jun,” tambahnya.
“Tidak, tidak… aku tidak bisa memanggil Young-Jun ssi seperti itu!” seruku cepat. “Young-Jun ssi lebih tua tiga tahun dariku, aku tidak bisa memanggil seperti itu… tidak sopan…”
“Begitu ya…” Young-Jun mengangguk-angguk seolah sudah menerima apa yang kukatakan dengan lapang dada. Tapi detik berikutnya, ekspresinya berubah seperti anak jahil yang sedang memikirkan rencana nakal dikepalanya. Satu lagi ekspresinya yang baru sekali kulihat. “Kalau begitu, sebaiknya kau memanggilku ‘jagiya’ saja? Sepertinya terdengar lebih baik, kan?”
Aku yang belum sembuh dari segala macam kegugupan, tentu saja tergagap-gagap lagi mendengar kalimat terakhirnya itu. “J-jagiya? Tapi… a-aku… aku…”
Tiba-tiba saja tawa Young-Jun meledak sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Ini pertama kalinya aku melihat pria itu tertawa begitu lepas, dan aku dibuat terpesona olehnya.
“Tidak perlu gugup begitu! Aku hanya bercanda…” ujarnya, masih sambil tertawa. “Kau boleh memanggilku apa saja yang kau mau, mengerti?”
“Aah, terima kasih..” Aku mengangguk dengan penuh kelegaan. Senyumku mengembang secara otomatis. Ternyata tawa Young-Jun juga bisa menular, persis seperti tawa dan keceriaan Kim Sung-Ki yang mudah sekali menular padaku.
Ah, ngomong-ngomong tentang Sung-Ki… Apakah dia akan ikut senang kalau tahu aku dan Young-Jun sudah mulai berkencan?
++



