this fiction is dedicated to Coet a.k.a Kim Eun-Suh (the winner of FTVLT casting)
CHAPTER 1
Eun-Suh. Suwon, Maret 2003.
Namaku Kim Eun-Suh. Umurku 16 tahun. Aku lahir di Seoul, tapi sejak aku mulai masuk sekolah dasar, keluargaku pindah ke Suwon dan menetap hingga sekarang. Kehidupanku sangat sederhana, sama sekali tidak ada yang menarik. Aku bukan anak yang terlalu pintar dan berprestasi di sekolah, dan juga bukan anak yang cantik luar biasa sehingga bisa menjadi model atau bintang iklan. Keluargaku juga bukan termasuk dalam kategori keluarga yang kaya raya, walaupun masih boleh dikatakan berkecukupan. Ayahku bekerja sebagai manajer pemasaran di perusahaan penyedia layanan internet, dan ibuku juru masak di restoran Eropa di pusat kota. Kami bertiga tinggal di rumah kecil berlantai dua di sebuah kompleks perumahan, dengan damai dan bahagia.
Ugh. Tunggu dulu. Apa aku barusan mengatakan damai? Mungkin harus kuralat kata-kata yang satu itu. Damai untuk kedua orang tuaku, tapi tidak untukku. Karena hidupku tidak akan pernah bisa damai, selama pohon Walnut Cina setinggi sepuluh meter yang tumbuh di halaman samping kami masih mengarahkan dahannya ke jendela kamarku.
“Kim Eun-Suuuh… aku dataaaang…”
Benar kan, apa yang kubilang tadi? Ini sudah jam delapan malam, waktunya belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, tapi masih saja ada yang bertamu di jendelaku.
“Kim Eun-Suuuh… aku tahu kau ada di dalam, cepat buka!”
“Kau mau apa lagi? Ini sudah malam, tahu!” Aku menggerutu sambil membuka gerendel jendelaku. Detik berikutnya, seorang anak laki-laki berpipi tembem melompat masuk ke dalam kamarku dan langsung merebahkan tubuhnya di kasurku, tanpa permisi.
Namanya Lee Hyun-Ji, tetanggaku. Rumah kami tepat bersebelahan, hanya terpisah halaman seluas enam meter di samping rumahku. Tapi jarak itu sama sekali tidak terasa, berkat pohon Walnut yang kubicarakan tadi. pohon itu berdiri tepat di samping kamarku, dan dahannya yang besar dan kuat menjulur ke segala arah, salah satunya mencapai jendela kamarku di lantai dua, dan yang lainnya lagi melewati batas teritori hingga sampai ke jendela rumah tetangga. Mungkin tidak akan jadi masalah kalau dahan itu menjulur ke depan jendela kamar Tuan dan Nyonya Lee, bukannya ke jendela kamar Hyun-Ji, anak mereka yang sedikit hiperaktif dan usil itu.
Tapi berkat dahan pohon yang menjembatani kamar kami itulah yang membuat kami menjadi cepat akrab. Aku masih ingat betul, saat aku pertama kali pindah ke Suwon, Hyun-Ji memanjat dari kamarnya hingga ke kamarku untuk memberikan kue ucapan selamat datang –kue itu sebenarnya hanya sepotong roti tawar yang ditulisinya dengan selai coklat, tapi toh berhasil membuatku sangat tersentuh. Dan sejak itu, ia mulai rajin mengunjungiku. Sehari bisa enam atau tujuh kali. Kalau sedang kesusahan, ia akan datang untuk memintaku membantunya mengerjakan pe-er. Saat bosan, ia akan datang untuk mengajakku main atau mengobrol. Pokoknya, selalu ada saja alasan yang membawanya datang kepadaku, bahkan saat tengah malam sekalipun.
Awalnya kebiasaannya bertamu ke kamarku itu membuatku merasa senang dan tidak kesepian. Tapi lama-kelamaan, ketika aku sudah memasuki masa puberku dimana aku membutuhkan waktu untuk diriku sendiri, kedatangan Hyun-Ji jadi sedikit mengganggu. Apalagi kalau aku sedang jatuh cinta. Biasanya dia datang saat aku tengah duduk di depan jendela sambil mendengarkan lagu-lagu cinta dan membayangkan orang yang kusukai… uh, rasanya ingin sekali kulempar jauh-jauh Lee Hyun-Ji itu keluar jendela!
Tapi diluar sikapnya yang sangat menyebalkan tentang masalah tamu-tamuan ini, Hyun-Ji adalah teman yang sangat baik. Dia teman pertama yang kumiliki di Suwon. Meskipun agak hiperaktif dan sering usil, tapi sikap Hyun-Ji yang ceria tidak pernah gagal menghiburku dalam keadaan apapun. Hyun-Ji juga merupakan satu-satunya orang yang bisa selalu membuatku nyaman. Dia adalah tempatku menceritakan seluruh rahasia tanpa rasa canggung dan malu. Dia adalah tempatku mengeluh saat sedang banyak pikiran. Dia adalah tempatku menangis saat sedih. Dia juga tempatku marah-marah jika sedang kesal. Meskipun kekesalanku tidak ada hubungannya dengannya, tapi Hyun-Ji tidak pernah protes. Biasanya dia akan duduk diam dan mendengarkanku hingga selesai mengomel, lalu melemparkan salah satu lelucon koleksinya, sampai aku terbahak-bahak dan melupakan kekesalanku. Lee Hyun-Ji itu benar-benar teman yang ideal. Ideal, diluar keisengannya yang sangat mengganggu itu.
“Yah! Turunkan kakimu yang kotor itu dari tempat tidurku!” Aku berteriak sambil memukul kepalanya yang bulat dengan bantal.
“Kakiku tidak kotor kok,” sahut Hyun-Ji sambil lalu tersenyum tak berdosa lalu memperlihatkan telapak kakinya yang berwarna merah muda, seperti telapak kaki bayi.
“Ya, terserah kau saja. Yang penting jangan mengotori tempat tidurku, aku baru saja mengganti spreinya tadi pagi.” Aku mengangkat bahu, lalu kembali ke meja belajar untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumahku.
Entah berapa lama aku berkutat dengan buku-buku pelajaran sekolahku. Aku terlalu sibuk memikirkan timbunan pe-er sampai melupakan makhluk bernama Lee Hyun-Ji yang sedang bergulung-gulung di balik selimut Hello Kitty-ku.
“Eun-Suh ya, kau sedang apa? Sepertinya sibuk sekali..” Hyun-Ji akhirnya bersuara.
“Aku sedang membuat pe-er,” sahutku tanpa mengangkat kepala dari buku tulisku. “Kau tahu, pe-erku jadi bertambah dua kali lipat karena ada pelajaran tambahan.”
“Guru-guru pelajaran tambahan juga senang memberi pe-er?” Tiba-tiba saja Hyun-Ji sudah berdiri disampingku, dan ikut-ikutan melihat buku pe-erku. “Sini kubantu, supaya cepat selesai…”
“Mana bisa murid grade sembilan mengerjakan pe-er untuk grade sepuluh?” Aku mencibir.
“Kau meragukan kemampuan otakku yang cerdas? Pe-ermu ini gampang sekali… Aku bisa mengerjakannya dengan mata terpejam,” sahutnya yakin.
“Tidak, tidak! Kembalikan bukuku!” Aku buru-buru merebut buku pe-erku. “Lebih baik kukerjakan semuanya sendiri sampai pagi daripada harus menerima bantuanmu.”
“Tapi aku bosan,” keluh Hyun-Ji. Ia cemberut dan mengerutkan bibir seperti Donal Bebek. “Aku datang ke sini untuk mengobrol denganmu, tapi kau malah sibuk sendiri.”
“Astaga.. aku sedang mengerjakan pe-er, Lee Hyun-Ji. Mengertilah sedikit…”
“Aku mengerti, makanya biarkan aku membantu. Aku bisa mengerjakan…”
“Tidak,” potongku cepat sambil melempar tatapan peringatan-tahap-satu-ku pada Hyun-Ji. “Lebih baik kau mendengarkan mp3 playerku, atau bermain dengan boneka-bonekaku, atau… apa saja deh. Asal jangan sentuh pe-erku!”
“Tapi aku sudah hafal semua lagu di mp3 playermu. Tidak ada yang menarik lagi…” Hyun-Ji menggerutu. “Sudahlah, lebih baik kau menerima bantuanku. Aku ini tulus ingin membantu, lagipula…”
“Astaga. Baiklah, baiklah.” Aku melotot kesal sambil menyerahkan buku pe-er bahasa Inggrisku -yang soalnya paling gampang- pada Hyun-Ji. “Kau boleh mengerjakannya, tapi JANGAN pernah menuliskan apapun kalau kau tidak yakin dengan jawabanmu. Mengerti?”
“Arasso!” Hyun-Ji melonjak girang, lalu menyambar pulpenku dan mulai menulis.
Sementara aku keheranan sendiri melihat ada orang yang bersedia mengerjakan pe-er orang lain dengan riang gembira. Tapi memang begitulah Lee Hyun-Ji. Tetap gembira walaupun harus melakukan hal-hal yang membuat orang lain mengeluh.
++
Hyun-Ji. Suwon, Maret 2003.
Hai! Aku Lee Hyun-Ji. 15 tahun. Lahir dan besar di Suwon. Kata ibuku, aku ini anak yang bandel dan susah diatur. Ayahku bilang aku nakal dan tukang membantah. Padahal menurutku, aku ini hanya sedikit terlalu banyak bergerak, sedikit terlalu bertenaga, dan punya selera humor yang sedikit terlalu tinggi. Hanya sedikit terlalu. Tidak akan mengganggu, kan?
“Kim Eun-Suuuh…. Banguuun!” Aku berteriak sekuat tenaga, dari jendela kamarku. Tak ada reaksi. “Kim Eun-Suuuh… cepat bangun! Cepat! Cepat! Cepat!” ulangku.
Aku sudah hampir berteriak lagi, tapi tiba-tiba jendela lantai dua di rumah seberang terbuka. Diikuti wajah cemberut Eun-Suh yang baru bangun tidur, masih memakai piyama pink berpola stroberi, dengan rambut dibentuk cepol berantakan di puncak kepalanya.
“YAH! Lee Hyun-Ji! Ini masih jam enam pagi! Bisakah kau memelankan sedikit suaramu?” Eun-Suh tanpak sangat kesal.
“Aku kan cuma membangunkanmu!” Aku nyengir luar biasa lebar, berusaha menunjukkan tampang polos dan tak bersalah.
Eun-Suh menggerutu tak jelas tentang ‘membangunkan seluruh kompleks’, sambil merapikan kordennya. Tapi aku sama sekali tidak mendengarkannya. Aku melompat cepat keluar jendela kamarku, lalu merangkak ke seberang sambil berpegang pada batang pohon yang gendut-gendut.
“Yah! Mau apa kau kemari?” Eun-Suh berkacak pinggang ketika aku sudah hampir sampai ke jendelanya.
Tapi aku sama sekali tidak berminat menjawab. Aku melompat ringan masuk ke kamar Eun-Suh, menarik gadis itu ke kamar mandi, memakaikan shower cap-nya yang bergambar Hello Kitty, lalu menyalakan shower.
“Apa yang kau lakukan, Lee Hyun-Ji? Cepat keluar dari kamar mandiku!” Eun-Suh melepas shower cap yang tadi kupasangkan sambil membelalakkan mata.
“Aku akan memandikanmu, Kim Eun-Suh!” sahutku riang gembira, sembari memaksa Eun-Suh memakai shower cap-nya lagi. Gadis itu sudah membuka mulut hendak mengomel ketika aku mengarahkan shower tepat ke wajahnya yang masih mengantuk.
“YAH! LEE HYUN-JI! APA YANG KAU… YAH!” Eun-Suh gelagapan menutup wajahnya dengan tangan sambil terus berteriak-teriak marah. Sementara aku terbahak-bahak.
“Bukankah aku teman yang baik?” Aku nyengir lebar.
“Teman yang baik macam apa? Cepat keluar dari kamar mandiku!” Eun-Suh menggerung marah, dan berusaha merebut shower dari tanganku.
“Tentu saja aku teman yang baik,” sahutku sambil berkelit menghindari tangan Eun-Suh yang terjulur. “Pagi-pagi begini aku sudah datang dan memandikanmu, si gadis pengantuk yang malas bangun pagi!”
Eun-Suh masih terus berusaha merebut shower, sambil melindungi wajahnya dari semprotan air. “Yah! Kuberi tahu kau, Lee Hyun-Ji! Kau adalah teman terburuk yang pernah kupunya!” erangnya. “Sekarang, hentikan acara main-main shower-mu dan cepat pergi dari sini! Kau membuat seluruh kamar mandiku basah! Cepat pergi!”
“Aku tidak akan pergi sebelum kau benar-benar bersih,” sahutku sambil menjulurkan lidah dan kembali mengarahkan shower ke wajah Eun-Suh. Tapi kali ini gadis itu tidak mau kalah. Eun-Suh menerjangku dengan seluruh kekuatan yang ia punya, lalu merebut shower dan gantian menyemprotku dengan air sediingin es.
“Kim Eun-Suh! Kau ini jahat sekali! Aku kan hanya ingin membantumu mandi…” Aku menjerit protes sambil berusaha merebut shower kembali.
Tapi Eun-Suh tidak menyerah. Ia malah tertawa sinis, lalu mengambil botol shamponya aroma stroberi dan menuangkan isinya ke rambutku. “Satu-satunya yang perlu dimandikan adalah kau, Lee Hyun-Ji! Rasakan ini, serangan busa shampo…!” teriaknya sembari mengacak-acak rambutku tanpa ampun, sampai seluruh kepalaku dipenuhi busa-busa pink
Akhirnya dari semua ini tentu sudah bisa ditebak. Kami berdua terlibat perang air yang sengit, sampai seluruh kamar mandi Eun-Suh becek dan penuh dengan busa-busa shampo.
“Yah! Hentikan sekarang juga, Lee Hyun-Ji!” Tiba-tiba Eun-Suh berteriak disela-sela perebutan shower yang seru.
“Tidak akan!” sahutku sambil terus mempertahankan posisi shower agar tetap mengarah ke wajah Eun-Suh yang sekarang sudah basah kuyup dan jelek. “Kecuali kau mau minta maaf karena membuat rambutku jadi beraroma menjijikkan seperti ini!”
“Minta maaf? Memangnya siapa yang mulai duluan?” balas Eun-Suh sengit. “Siapa yang merayap ke kamarku seperti cicak, lalu masuk ke kamar mandiku dan menyemprotku dengan shower?”
“Aku kan hanya ingin membantumu mandi!” sahutku tidak mau kalah.
“Memangnya siapa yang meminta bantuanmu?” Eun-Suh melotot.
“Kalau tidak kubantu, kau bisa menghabiskan dua jam untuk mandi dan kita bisa terlambat berangkat ke sekolah!”
“Yah! Dengar, kau bisa mandi lebih cepat kalau kau tidak datang kesini dan menggangguku!”
“Jadi, kau menyalahkan aku?”
“Tentu saja! Ini semua salahmu! Kalau kau tidak datang dan…. YAAAH! LEE HYUN-JI!”
++
Eun-Suh. Suwon, Maret 2003.
Aku sedang mengambil jaket dari rak pakaian bersih di ruang setrika ketika bel berbunyi, disusul suara riang gembira yang sudah sangat kuhafal.
“Selamat pagi, Bibi!” Lee Hyun-Ji berseru riang. “Apa Eun-Suh Noona sudah siap?”
“Selamat pagi, Hyun-Ji!” Aku bisa mendengar suara ibuku yang tidak kalah ceria dengan suara Hyun-Ji. “Eun-Suh baru saja selesai sarapan, mungkin sekarang sedang mengambil sepatu. Kau sudah sarapan?”
“Belum. Ibuku sedang pergi ke Seoul, jadi tidak ada yang memasak,” sahut Hyun-Ji.
“Lalu bagaimana? Apa kau mau sarapan dulu sambil menunggu Eun-Suh?” Ibuku yang baik tentu saja menawarkan sarapan melihat anak malang yang berdiri di depan pintunya itu.
“Tidak usah, Bibi. Nanti aku akan membeli makanan di sekolah saja.” Hyun-Ji menyahut dengan nada bicara yang terdengar biasa saja bagi orang awam seperti ibuku. Tapi telingaku yang tajam ini jelas bisa mengenali maksud licik dibalik suara manisnya.
“Oh, kebetulan Bibi membuat sandwich keju untuk bekal Eun-Suh. Kau mau juga, ya? Supaya tidak kelaparan di sekolah…”
Aku tidak perlu mendengar untuk tahu apa jawaban Hyun-Ji. Sandwich buatan ibuku adalah surga baginya. Dia tidak mungkin menolak. Bahkan kalau ibuku tidak menawarkan pun, dia akan tetap mendapatkannya dengan cara paksa, alias merebut bekalku saat di sekolah nanti.
“Ayo kita berangkat!” Aku menyeruak ke pintu depan sebelum ibuku sempat beranjak dari tempatnya untuk mengambilkan sandwich untuk Hyun-Ji.
“Ah, Eun-Suh Noona sudah siap?” tanya Hyun-Ji sambil memasang senyum yang dimanis-maniskan, tapi kedua matanya menatapku marah. Marah karena aku muncul sebelum sandwich surgawi ibuku sampai ke tangannya.
“Sudah. Ayo!” sahutku tanpa memedulikan tatapan membunuh Hyun-Ji, lalu mencium pipi ibuku. “Omma, aku pergi dulu!”
“Eh, tunggu sebentar! Omma baru mau mengambilkan sandwich untuk Hyun-Ji!” Ibuku yang baik berusaha menghentikan langkah kami. Tapi aku tentu saja sudah punya strategi untuk mengantisipasi ini. Pokoknya, aku tidak akan membiarkannya mendapatkan sandwich hari ini, sebagai balas dendam atas kelakuan Hyun-Ji tadi pagi.
“Ah.. tidak perlu. Hyun-Ji bisa membeli makan di kantin sekolah,“ sahutku cepat, sembari mengerling ke arah Hyun-Ji yang sekarang sudah melotot dibelakang punggung ibuku. “Kami harus berangkat sekarang kalau tidak mau terlambat.”
Ibuku tampak ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk dan membiarkan kami pergi. “Ah, baiklah… Jangan lepas jaketmu ya, Eun-Suh! Angin diluar sudah mulai dingin.”
“Tenang saja, Bibi. Aku akan mengawasi Eun-Suh Noona agar tidak masuk angin!” sambar Hyun-Ji sambil menyeringai kepadaku.
“Terima kasih, Hyun-Ji! Kau baik sekali.” Ibuku yang lugu tampak terharu dengan sikap manis Hyun-Ji. “Hati-hati dijalan, kalian berdua!”
++
Hyun-Ji. Suwon, Maret 2003.
“Kau tahu, aku sudah selangkah lagi mendapatkan sandwichku dan kau merusak segalanya,” ujar Hyun-Ji keras, melawan suara angin ketika sepeda yang kami tumpangi melesat cepat di jalan kecil yang aspalnya sudah mulai berbocel-bocel disana-sini.
Aku mengencangkan peganganku ke pinggang Hyun-Ji sambil tertawa. “Itu balasan untukmu karena sudah mengotori kamar mandiku tadi pagi.”
“Kau ini benar-benar tidak tahu terima kasih, Kim Eun-Suh.” Hyun-Ji menggeram. “Niatku menyemprotkan air kan hanya untuk menyegarkan pikiranmu, supaya kau cepat bangun dan tidak malas-malasan lagi. Tapi kenapa kau malah menyalah-nyalahkan aku?”
“Oh, diam kau, Lee Hyun-Ji! Pembelaanmu itu sama sekali tidak masuk akal!” sahutku cepat.
“Kau yang diam, Kim Eun-Suh. Pokoknya, kau harus memberikan sandwichmu padaku atau…”
“Atau apa?”
“Atau aku tidak akan pernah memberimu tumpangan ke sekolah lagi. Selamanya.”
Aku terbahak sambil mencondongkan kepalaku ke depan, agar bisa melihat wajah Hyun-Ji yang cemberut. “Silakan saja! Memangnya siapa yang butuh tumpanganmu? Aku bisa berangkat ke sekolah naik sepedaku sendiri!”
“Kau tidak akan bisa pergi ke sekolah tanpaku, Kim Eun-Suh. Lihat saja nanti,” ujar Hyun-Ji dengan nada mengancam, sembari melirikku lewat sudut matanya.
Aku tertawa semakin keras tapi tidak membalas lagi. Tidak ada gunanya berdebat dengan Hyun-Ji. Hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Sejak pagi-pagi buta aku sudah dibuat sangat lelah gara-gara insiden di kamar mandi tadi, dan sekarang aku tidak butuh berdebat omong kosong lagi dengan Hyun-Ji.
Kami sudah hampir sampai di gerbang sekolah, ketika aku menemukan satu pertanyaan lagi untuk tetanggaku yang menyebalkan itu.
“Yah! Lee Hyun-Ji! Kenapa kau hanya memanggilku Noona saat didepan para orang tua?”
Aku bisa melihat Hyun-Ji mengerutkan kening sejenak sebelum menjawab, “Karena kita lahir di tahun yang sama, ingat?”
“Tapi aku tetap saja lebih tua darimu. Ulang tahunku bulan Februari, sedangkan kau bulan Desember. Tahun ini aku akan LULUS grade sepuluh, dan kau baru akan NAIK ke grade sepuluh. Ingat?” Aku balas bertanya. “Jadi, seharusnya kau selalu memanggilku Noona, dan berbicara dalam bahasa yang lebih sopan padaku.”
“Bagiku sama saja. Selama kita masih lahir di tahun yang sama, aku tidak akan pernah menganggapmu lebih tua dariku,” sahut Hyun-Ji acuh tak acuh. “Kecuali… di depan orang tua kita. Aku tidak mau dimarahi ibuku karena dianggap bersikap tidak sopan padamu.”
“Kau memang pantas dimarahi. Kau seharusnya memanggilku Eun-Suh NOONA, Lee Hyun-Ji,” ujarku sambil memberi penekanan penuh pada kata Noona.
“Tidak akan pernah, Kim Eun-Suh.” Hyun-Ji menyahut tepat ketika kami tiba di gerbang sekolah. Ia turun dari sepedanya, sementara aku melompat turun juga dari kursi penumpang dan mendarat disampingnya.
“Kau akan selalu menjadi Kim Eun-Suh bagiku, bukannya Eun-Suh Noona.”
++
Author’s note :
waw, 1st chapter! panjang dan penuh dengan pertengkaran. hihi. semoga chapter ini tidak terlalu gagal yahh… happy reading, everyone! don’t forget to leave your comments!
arasso : I understand
noona : panggilan untuk perempuan yang lebih tua (oleh laki-laki)