Archives

There’s Something Between Us [CHAPTER 18]

currently listening : Long Time No See – Lim Chang Jung

CHAPTER 18

Ha-Ra. Autumn, 13 September 2008.
     Aku tengah mengemasi barang-barangku yang masih berserakan di lantai ruang pakaian, ketika tiba-tiba suara yang sudah sangat familiar menyapa telingaku,“Noona mau kemana?”
     “Pulang, tentu saja. Memangnya kemana lagi?” sahutku sembari memasukkan agenda dan pulpen ke dalam tas Miu Miu hijau toska yang baru kubelu bulan lalu. “Pekerjaanku hari ini sudah selesai.”
     “Tapi kami masih ada siaran di MBC Radio malam ini,” ujar Sung-Ki dengan nada bossy yang terdengar sedikit menyebalkan.
     “Iya, tapi aku tidak perlu ikut kan? Memangnya siapa yang memperhatikan penampilanmu saat siaran radio?” jawabku.
     “Tapi ini kan viewable radio, Noona. Penampilan tetap penting!” Sung-Ki melipat kedua tangannya di depan dada. Bibirnya bergulung-gulung, jelas tampak keberatan kalau aku pulang sekarang.
     “Iya, Kim Sung-Ki. Aku tahu,” sahutku cepat sembari menggertakkan gigi. Mulai tidak sabar dengan sikap Sung-Ki yang rewel itu. “Tapi kan aku sudah menyiapkan pakaianmu untuk acara nanti malam, jadi aku tidak ikut pun tidak masalah. Kalian kan tidak berganti-ganti pakaian disana.”
     Meskipun aku sudah ceramah panjang lebar, Sung-Ki masih membandel. Ia malah berusaha memblokir pintu agar aku tidak bisa keluar. “Tapi, Noona…”
     “Oh, sudahlah, Kim Sung-Ki. Kau lebih baik jangan menghalagi jalanku. Aku benar-benar mau pulang sekarang, pekerjaanku sudah selesai. Kalau tidak percaya tanya saja pada manajer-manajermu,” sambarku cepat sembari mendorong tubuhnya menjauh dari pintu. “Sudah ya, aku pulang dulu. Sampai jumpa besok, Sung-Ki ya!” Aku buru-buru melambai dan kabur ke pintu keluar sebelum Sung-Ki sempat merajuk lagi. Tapi, baru dua meter dari pintu apartemen New High, langkahku sudah dihentikan lagi oleh seorang pria jangkung yang baru keluar dari lift.
     “Young-Jun ssi…” gumamku pelan, sementara rasa panas mulai menjalari pipiku untuk alasan yang sama sekali tidak jelas.
     “Ah, Ha-Ra ssi, aku baru mau mencarimu,” ujar Young-Jun sembari tersenyum lebar. “Apa kau ada acara malam ini?”
     “Aku.. tidak…”
     “Aku ingin mengajak Ha-Ra ssi makan malam diluar,” sahut Young-Jun cepat, sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. “Aku juga yang akan mengantar Ha-Ra ssi pulang. Bagaimana?”
     Setelah perang batin selama beberapa detik, aku akhirnya terpaksa mengangguk pasrah dan mengikuti Young-Jun ke mobilnya. Aku bukannya tidak mau pergi bersama Young-Jun. Dia masih tetap tampan seperti biasanya, masih tetap hangat dan bersahabat. Dia juga sama sekali bukan tipe yang memalukan untuk diajak makan malam bersama. Tapi berdekatan dengan Young-Jun seperti ini membuatku teringat pada percakapanku dengan ayahku dua hari yang lalu. Percakapan yang sangat membuatku tidak nyaman dan tidak bisa tidur semalaman. Saat itu, aku baru pulang kerja pukul sepuluh malam. Tadinya berniat langsung mandi dan tidur, tapi tiba-tiba ayahku memanggil dan mengajakku bicara empat mata.
     “Ha-Ra, sudah saatnya kau dan Young-Jun mengumumkan pertunangan,” ujar ayahku. Ia menatapku dari balik kacamata bulatnya dengan ekspresi sangat serius.
     “Pertunangan?” Aku membelalakkan mata, tak percaya dengan daya dengar telingaku sendiri. “Pertunangan apa? Aku sedang tidak ingin bercanda, Appa…”
     Ayahku menghela nafas. “Untuk apa aku bercanda denganmu tentang masalah seperti ini?”
     “Tapi aku dan Young-Jun ssi bahkan belum berpacaran, bagaimana bisa bertunangan begitu saja?” Aku mendadak panik mendengar gagasan tentang pertunangan ini.
     “Kalian belum berpacaran? Kupikir aku sering melihatnya mengantarmu pulang setelah bekerja,” sahut ayahku sembari mengerutkan kening. Ia jelas-jelas mengira aku berbohong.
     “Ya, memang. Dia memaksaku untuk itu berkali-kali. Tapi bukan berarti kami berkencan.” Aku bersikeras.
     “Lalu kenapa kalian tidak mulai berkencan?” Ayahku mengangkat alisnya.
     “Appa… aku sedang tidak ingin membicarakan segala sesuatu yang ada hubungannya dengan kencan…”
     “Ha-Ra, sebaiknya kau mulai mempertimbangkan ideku untuk berkencan dengan Young-Jun. dia anak yang baik. Dan orang tuanya juga baik. Mereka sangat setuju kalau kau yang menjadi pendamping Young-Jun.”
     “Dan Appa juga setuju? Appa mau memaksaku menikah dengan Young-Jun ssi?” tuntutku.
     Ayahku menggeleng sembari melepas kacamatanya. “Tidak. Appa tidak mau memaksamu. Tapi alangkah baiknya kalau kau mencoba berkencan dulu dengannya, setidaknya, cobalah mengenalnya lebih jauh. Siapa tahu kalian berdua cocok dan…”
     “Tapi, Appa… aku…”
     “Cobalah berkencan dengannya dulu,” potong ayahku cepat. Ekspresi wajahnya mengatakan bahwa ia tidak ingin dibantah lagi. “Kau tahu, Nak, ayahmu ini sudah tua. Tidak tahu berapa lama lagi hidupnya. Aku hanya ingin melihatmu menikah dengan pria yang baik, sebelum aku mati.”
     Alasan klasik orang tua jika ingin memaksa anaknya. Tapi nyatanya berhasil membuatku kehilangan kata-kata. Dan sampai sekarang, aku masih belum tahu apa yang harus kulakukan mengenai masalah Young-Jun ini. Bagaimana aku bisa mulai berkencan dengannya kalau aku masih belum bisa menerjemahkan perasaanku sendiri?
     “Ha-Ra ssi… Kenapa melamun?”
++

Sung-Ki. Autumn, 13 September 2008.
     “Hyong, dimana Young-Jun Hyong?” tanya Young-Min tiba-tiba. Kami sedang berada diatas van yang melaju ke stasiun MBC Radio.
     “Oh… Young-Jun sedang ada urusan. Aku tidak tahu kemana, dia hanya meneleponku sebentar untuk mengatakan tentang urusan mendadak,” sahut Jin-Ni yang tampak acuh tak acuh menanggapi ‘menghilang’nya Young-Jun yang membuat ia harus bekerja mengurusi kami sendirian malam ini.
     “Ha-Ra Noona juga tidak ada. Kemana dia?” tanya Young-Min lagi. 
     “Ha-Ra Noona sudah pulang, katanya sudah tidak ada kerjaan lagi malam ini.” Tiba-tiba aku mendengar suara yang mirip suaraku sendiri menjawab cepat. Rupanya reaksi spontanku bekerja sangat cepat setiap mendengar nama gadis itu.
     “Ah, benar-benar tidak seru kalau pasukan kita tidak lengkap begini,” keluh Young-Min. Ia menekuk mukanya seperti anak berumur lima tahun yang ngambek karena tidak dibelikan es krim. “Young-Jun Hyong ada urusan, dan Ha-Ra Noona juga sudah pulang…”
     Mendengar kalimat terakhir Young-Min, tiba-tiba otakku terbangun. Kenapa aku tidak sadar dari tadi kalau kali ini, lagi-lagi, Young-Jun menghilang secara misterius pada saat Ha-Ra juga tidak bersama kami? Apa ini semua hanya kebetulan saja? Tidak mungkin kan kalau mereka pergi bersama?
++

Ha-Ra. Autumn, 13 September 2008.
     “Aku… sebenarnya ingin meminta Ha-Ra ssi menjadi pacarku.”
     “A-apa?” Aku membelalakkan mata lebar-lebar. Sama sekali tidak percaya dengan apa yang baru saja dicerna telingaku sendiri. “M-memintaku menjadi…”
     “Ya. Jadi pacarku,” sahut Young-Jun yakin, sembari memamerkan senyumnya yang luar biasa manis. Sementara kedua pipiku mulai dirambati semburat merah.
     “Tapi kenapa… ini terlalu tiba-tiba…” Aku terbata-bata.
     “Aku sudah lama menyukai Ha-Ra ssi,” ujar Young-Jun, masih sambil mempertahankan senyum manisnya yang membuatku semakin gugup.
     Aku bergerak-gerak gelisah di tempat dudukku, tanpa bisa menjawab apa-apa. Ini persis dengan apa yang diinginkan ayahku. Tapi aku sama sekali belum memutuskan bagaimana perasaanku terhadap Young-Jun. Bagaimana ini? Bagaimana? Aku harus menjawab apa?
     “Bagaimana, Ha-Ra ssi?” tanya Young-Jun sembari mengatupkan kedua telapak tangannya dan mencondongkan tubuh ke arahku dengan sikap tertarik.
     Oh, Tuhan. Tolong aku.. bagaimana ini? Aku harus bagaimana? Aku harus menjawab apa?
     “Ah, baiklah.. sepertinya Ha-Ra ssi tidak meny…”
     “Bukan begitu!” jawabku spontan. “Aku hanya…” Oh, Tuhan. Aku harus bicara apa?
     “Hanya?” Young-Jun mengangkat alisnya.
     “Aku hanya merasa… ‘berpacaran’ masih terlalu berlebihan…” sahutku pelan, sambil berusaha menyusun rangkaian kalimat yang tepat didalam kepalaku. “Maksudku… aku.. kita masih belum terlalu saling mengenal, jadi… kurasa…”
     “Aku mengerti, Ha-Ra ssi,” jawab Young-Jun lembut. Laki-laki itu sama sekali tidak tampak marah ataupun terluka dengan ucapanku. Ia justru tersenyum lebar, seolah tidak terjadi apa-apa. “Kurasa… kita bisa mulai dengan ‘berkencan’ terlebih dulu, agar Ha-Ra ssi bisa mengenalku lebih baik. Bagaimana? Setuju?”
     Aku memberanikan diri untuk menatap Young-Jun, sebelum memutuskan untuk menjawab. Aku ingin mencari kepastian dalam kedua matanya. Aku ingin meyakinkan perasaanku sendiri tentang semua ini.
     “Ha-Ra ssi? Apa kau sedang melamun lagi?” Tiba-tiba Young-Jun angkat bicara lagi, membuatku terlonjak kaget.
     “Ah, aku… tidak melamun.. aku hanya…” Aku mulai tergagap-gagap lagi.
     “Lalu kenapa kau tidak menjawab pertanyaanku?” tanya Young-Jun lembut. Ia tidak tampak kehilangan kesabarannya sama sekali meskipun sikapku terlalu berbelit-belit.
     Aku mendongak dan menatap laki-laki dihadapanku itu sekali lagi. Mau tak mau, kekaguman dalam hatiku mulai timbul ke permukaan. Meskipun terkesan kaku dan malu-malu, Park Young-Jun sebenarnya laki-laki yang sangat dewasa dan penuh kelembutan. Dia juga sangat menghargai kepentinganku. Ia bahkan bersedia ‘berkencan dulu’ agar aku mendapat waktu lebih banyak untuk membuat keputusan yang lebih besar. Dan secara fisik, dia benar-benar tipe yang nyaris sempurna. Jadi, apa lagi yang bisa kuminta dari seorang pria?
     “Ah, baiklah, Young-Jun ssi. Aku setuju.” Akhirnya aku mengangguk dan melebarkan senyum.
     Sementara Young-Jun membelalakkan matanya. Ia jelas-jelas tampak gembira. “Benarkah? Kau setuju berkencan denganku?” tanyanya.
     “Tentu saja,” jawabku mantap, sembari berusaha bersikap santai meskipun sebenarnya gugup setengah mati. “Dan bisakah kau memanggilku Ha-Ra saja? Ha-Ra ssi terdengar terlalu kaku.”
     “Baiklah, Ha-Ra.” Ia tersenyum luar biasa manis, hingga seluruh wajahnya tampak berbinar-binar. Aku baru sekali melihat ekspesi Park Young-Jun yang seperti ini. “Dan kau juga bisa memanggilku Young-Jun,” tambahnya.
     “Tidak, tidak… aku tidak bisa memanggil Young-Jun ssi seperti itu!” seruku cepat. “Young-Jun ssi lebih tua tiga tahun dariku, aku tidak bisa memanggil seperti itu… tidak sopan…”
     “Begitu ya…” Young-Jun mengangguk-angguk seolah sudah menerima apa yang kukatakan dengan lapang dada. Tapi detik berikutnya, ekspresinya berubah seperti anak jahil yang sedang memikirkan rencana nakal dikepalanya. Satu lagi ekspresinya yang baru sekali kulihat. “Kalau begitu, sebaiknya kau memanggilku ‘jagiya’ saja? Sepertinya terdengar lebih baik, kan?”
     Aku yang belum sembuh dari segala macam kegugupan, tentu saja tergagap-gagap lagi mendengar kalimat terakhirnya itu. “J-jagiya? Tapi… a-aku… aku…”
     Tiba-tiba saja tawa Young-Jun meledak sebelum aku sempat menyelesaikan kalimatku. Ini pertama kalinya aku melihat pria itu tertawa begitu lepas, dan aku dibuat terpesona olehnya.
     “Tidak perlu gugup begitu! Aku hanya bercanda…” ujarnya, masih sambil tertawa. “Kau boleh memanggilku apa saja yang kau mau, mengerti?”
     “Aah, terima kasih..” Aku mengangguk dengan penuh kelegaan. Senyumku mengembang secara otomatis. Ternyata tawa Young-Jun juga bisa menular, persis seperti tawa dan keceriaan Kim Sung-Ki yang mudah sekali menular padaku.
     Ah, ngomong-ngomong tentang Sung-Ki… Apakah dia akan ikut senang kalau tahu aku dan Young-Jun sudah mulai berkencan?
++

There’s Something Between Us [CHAPTER 17]

currently listening : Bittersweet – Bittersweet Faith

CHAPTER 17

theres something-chap17

Sung-Ki. Summer, 25 Agustus 2008.
     Semua kru panggung yang kutanyai mengatakan kalau mereka hanya punya empat mini scooter, dan semuanya sudah dipakai. Tapi mereka malah menawarkan golf cart sebagai gantinya. Mana mungkin aku bisa menolak? Golf cart bisa ngebut lebih kencang, kan?
     Aku sedang asyik bermain-main dengan golf cart, membuat manuver-manuver keliling venue, ketika tiba-tiba mataku menangkap dua sosok tak asing yang baru saja melewati pintu stadion. Masing-masing membawa bungkusan berlogo Dunkin’ Donuts. Cho Ha-Ra dan Park Young-Jun. Keduanya tertawa-tawa sambil mengobrol. Agak sedikit terlalu akrab, menurutku. Harus segera dihentikan.
     “Noona, awas!” Aku berteriak sembari menginjak pedal gas dalam-dalam dan mengarahkan golf cart yang kukendarai tepat ke arah Ha-Ra, seolah-olah hendak menabraknya.
     “Yah! Kim Sung-Ki! Apa yang kau lakukan?” teriak Ha-Ra, tepat ketika rem yang kuinjak menghasilkan bunyi berdecit yang memekakan telinga. “Kau ingin membunuhku atau apa?” Ia melotot lebar.
     Tapi aku tidak menanggapi kata-katanya. Ada hal lain yang lebih menggangguku.
     “Aku tidak tahu kalau Young-Jun Hyong pergi bersama Noona,” ujarku datar, sembari melompat turun dari golf cart. Aku berusaha mati-matian agar nada suaraku tidak terdengar seperti orang cemburu atau apa.
     “Young-Jun ssi yang mengajakku ikut…” Ha-Ra berbicara sangat cepat sampai-sampai aku nyaris tidak bisa mendengarnya dengan jelas. Tapi sebelum aku memintanya mengulang perkataannya, gadis itu sudah bicara lagi.
     “Eh, kami juga membelikan sarapan untukmu…” Ha-Ra mengulurkan kantong plastik yang sejak tadi dibawanya. “Ini… sandwich keju, kan?”
     “Benar,” sahutku sambil menghampirinya. “Tapi aku mau disuapi.”
     “Astaga. Kau ini bukan anak-anak lagi, Kim Sung-Ki,” desis Ha-Ra. Ia mulai menyipitkan mata lagi, tapi aku tetap cuek-cuek saja.
     “Biar saja. Pokoknya aku ingin disuapi,” sahutku. Aku mengeluarkan  jurus aegyo. Duduk manis dengan tangan terlipat dan mulut membuka lebar, menunggu makanan datang. Ha-Ra tidak akan bisa menolak kalau sikapku seperti itu.
     “Yah, memangnya kau pikir aku ini babysitter-mu?” Ha-Ra berkacak pinggang sambil memelototiku.
     “No, no… Bukan babysitter, tapi baby sister. Aku baby-nya, dan Noona sister-nya… Jadi sister harus menyuapiku sekarang juga. Cepat, aku sudah lapar!” Aku merajuk habis-habisan, tapi Ha-Ra tetap diam ditempatnya.
     “Tidak. Makan sendiri atau tidak usah makan sama sekali,” sahutnya tajam.
     “Ah, Ha-Ra Noona pelit! I hate you, Noona!” Aku mencibir, lalu menyambar kantong berisi sarapanku dan mulai makan.
     “I hate you more, Sung-Ki!” Ha-Ra tertawa sambil menoyor kepalaku, lalu melangkah pergi.
     Karena masih kesal, aku sama sekali tidak memperhatikan kemana Ha-Ra pergi. Tapi tiba-tiba terdengar seseorang berteriak “AWAS!” lalu BRAK! Sesuatu terjatuh. Sesuatu yang besar dan berat baru saja terjatuh. Dan orang-orang mulai menjerit. Jantungku langsung mencelos. Ha-Ra? Ha-Ra!
     “Noona!”
     “Aigoo!”
     “Ha-Ra ssi!”
     “Kau tidak apa-apa, Ha-Ra ssi!”
     “Noona, apa kau terluka?” Aku nyaris tidak bisa mendengar suaraku sendiri ditengah hujan teriakkan itu. Semua orang, mulai dari staf manajemen kami, hingga kru panggung yang sama sekali tidak bisa berbahasa Korea, mengerumuni Ha-Ra dengan penuh kepanikan.
     Dengan susah payah, aku berhasil menerobos kerumunan hingga sampai di sebelah Ha-Ra yang terduduk di lantai dengan wajah yang masih tampak shock. Syukurlah dia tidak terluka. Tidak ada tanda-tanda darah atau sesuatu yang parah terjadi pada tubuhnya. Tapi kenapa ia tetap tampak kesakitan?
     “Noona, katakan padaku…. Apa yang sakit?”
     “Sepertinya kakiku terkilir…” sahut Ha-Ra, terbata-bata. Wajahnya luar biasa pucat. “Aku tadi menghindari lampu itu, berlari, dan tersandung kabel… lalu terjatuh..” Ia berusaha menjelaskan apa yang baru saja dialaminya. Aku bisa melihat bibirnya bergetar.
     “Kakimu tidak bisa digerakkan, Ha-Ra ssi? Tidak bisa berjalan?” Tiba-tiba suara lantang Young-Jun terdengar.
     “Iya, sakit sekali kalau digerakkan,” sahut Ha-Ra pelan.
     “Bagaimana ini? Petugas medis baru akan datang pukul tiga,” seru Kang Jung-Ah. Dia tampak luar biasa panik. Jung-Ah Noona memang selalu jadi orang yang paling panik jika terjadi sesuatu. “Apa kita perlu membawanya ke rumah sakit?”
     “Tidak, Onni. Ini sepertinya hanya terkilir biasa. Aku hanya perlu salep analgesic, tidak perlu ke rumah sakit segala,” sahut Ha-Ra lirih sambil memijat-mijat kakinya. Ia jelas mengusahakan agar ekspresinya tetap tampak tenang, agar orang-orang tidak semakin cemas. Tapi ia tidak bisa mengelabuiku, tentu saja. Aku sudah terlalu sering mengamatinya, sampai nyaris hafal seluruh ekspresi wajahnya, sekalipun ia berusaha keras menyembunyikannya.
     “Oh, Hyong! Ada salep analgesic di kotak P3K, di ruang ganti!” Tiba-tiba aku mendengar Young-Min berseru entah pada siapa.
     “Sebaiknya kita memikirkan cara untuk memindahkannya kesana,” ujar Young-Jun, lebih pada dirinya sendiri. Lalu menoleh dan mengulurkan tangan pada Ha-Ra.  “Ha-Ra ssi, apa kau tidak bisa berjalan sama sekali? Kubantu ya, berdiri pelan-pelan…”
     “Jangan memaksanya berjalan! Apa Hyong tidak lihat dia kesakitan?” Tiba-tiba aku mendengar suara sarat kemarahan, yang mirip dengan suaraku sendiri. Aku tidak tahu kenapa aku mendadak merasa kesal melihat Young-Jun memapah Ha-Ra dengan sikap seolah-olah gadis itu kekasihnya. Aku yang seharusnya melindungi Ha-Ra, bukan Young-Jun.
     “Tunggu saja disini!” ujarku setengah memerintah, sambil berlari mengambil golf cart milik kru panggung -yang kutinggalkan begitu saja ditengah-tengah stadion, saking paniknya melihat Ha-Ra hampir celaka- lalu membawanya sedekat mungkin dengannya agar Ha-Ra tidak perlu berjalan terlalu jauh. Pokoknya, aku akan melakukan apa saja agar bisa membawanya ke tempat yang lebih nyaman tanpa harus membuatnya semakin kesakitan.
     “Get on my back, Noona!”
++

Ha-Ra. Summer, 25 Agustus 2008.
     Lampu panggung itu seharusnya jatuh menimpa kepalaku. Beruntung aku masih sempat lari menghindar. Walaupun akhirnya aku tersandung kabel, jatuh tersungkur, dan menderita sakit luar biasa di pergelangan kaki, tapi setidaknya aku masih sempat menghindar. Setidaknya bukan kepalaku yang harus terluka.
Tapi sakit sekali… Aku tidak bisa membohongi diriku sendiri. Ini pasti bukan terkilir biasa. Apa ada uratku yang putus? Atau jangan-jangan tulang mata kakiku retak?
     Rasa sakit ini benar-benar membuatku tidak bisa berpikir. Bahkan aku tidak sempat berpikir untuk menolak ketika Sung-Ki menggendongku di punggungnya, dan mdndudukanku di atas golf cart. Dia mengendarai golf cart itu sampai ke depan pintu masuk backstage, lalu kembali memindahkan berat tubuhku ke atas punggungnya.
     “Sung-Ki ya…” Aku berbisik ketika kami menyusuri lorong panjang yang menuju ke ruang rekreasi, tempat para artis menunggu giliran naik panggung.
     “Yeah?” sahut Sung-Ki. Sepertinya hobi berbahasa Inggrisnya kumat lagi. Memang hal itu biasanya terjadi kalau kami sedang ditengah keramaian, dan ia tidak ingin pembicaraan kami diketahui orang. Tapi kali ini, entah kenapa, dia tetap menggunakan bahasa Inggris padahal hanya ada kami berdua.
     Bukannya aku keberatan sih. Aku selalu senang mendengarnya bicara dalam bahasa Inggris. Suaranya selalu terdengar berbeda ditelingaku. Lebih berat dan seksi.
     “You know… I don’t think you’re that strong to carry me on a piggyback.” Aku sengaja menjawab dalam bahasa Inggris juga, agar aku bisa sedikit lebih lama mendengar suara seksinya itu.
     “Yah, are you underestimating me, Noona? I am strong, stronger than you think,” sahut Sung-Ki. Kedengarannya sedikit emosi, tapi aku tidak bisa tidak tertawa.
     “Ah, well… Thank you then, big boy…” jawabku sembari mengencangkan tanganku di sekeliling leher Sung-Ki. Ujung hidungku sudah nyaris bersentuhan dengan kulitnya. Aku tidak bisa tidak membaui parfum Calvin Klein-nya yang menyengat.
     “No, Noona. I’m not a boy anymore. You can’t call me like that,” protes Sung-Ki.
     “So, what? Are you a man by now?” Aku tertawa lagi, sejenak melupakan kakiku yang luar biasa sakit. “Nah, thank you, young man! It’s very kind of you!”
     “I’m not just ‘kind’, Noona. I’m a kind-polite-mature-cool-handsome-and-sexy man. Remember that,” ujar Sung-Ki lagi.
     “Oh, well…” Tawaku semakin keras. Kim Sung-Ki ini memang luar biasa narsis dan suka membanggakan dirinya sendiri. “I’ll remember that.”
     “Noona…” Tiba-tiba suara Sung-Ki berubah serius. “Is that still hurting?” tanyanya. Sudut matanya mengerling pergelangan kakiku.
     “So much,” sahutku. Mendadak rasa frustasi menyergapku lagi, teringat kemungkinan putus urat atau patah tulang yang mungkin saja kuderita. “I think it’s swollen now…”
     “You don’t have to worry, Noona,” bisik Sung-Ki pelan. Tangan kanannya tiba-tiba bergerak cepat mengelus pipiku, membuat jantungku berhenti berdetak selama sepersekian detik. “I promise, I’ll take care of you.  I promise, Noona.”
++

A/N : hyaaaaa… sorry for those grammatical errors. englishku bobrok sekali, mohon dimaklumi *big grin* 
oiyaa, mungkin selama ini belom aku kasih tau ya, kalo ff-ku ini ada induk dan anak-anak chapternya (kaya ayam aja punya induk). jadi, chapter 1-5 itu induk chapter pertama yang judulnya “NEW HIGH”, trus chapter 6-11 induk chapter kedua yang judulnya “THE WEDDING”, naaah chapter 12-17 ini termasuk induk chapter ketiga yang judulnya “THAILAND”. jadi, mulai chapter berikutnyaaaa… kita bakal masuk ke induk chapter keempat yang judulnya “TRIANGLE”. So, get ready!

There’s Something Between Us [CHAPTER 16]

CHAPTER 16

Sung-Ki. Summer, 25 Agustus 2008.
     “Yah, Kim Jong-Su! Apa yang kau minum itu?” Aku melompat dari tempat dudukku ketika Jong-Su lewat sambil menyesap minuman dari gelas kertas putih polos.
     “Cappucino,” sahut Jong-Su cuek, tanpa menghentikan langkahnya sama sekali.
     “Dari mana kau mendapatkannya? Aku mau juga!” Aku mengerjarnya dengan penuh semangat, berharap bisa mendapatkan cappucino juga.
     Tapi Jong-Su menyeringai. “Dari hotel. Tadi aku memesan di restoran, supaya bisa dibawa kemari.”
     “Kau cuma memesan satu?” Bahuku merosot.
     “Tentu saja. Memangnya untuk apa aku memesan untukmu?” Jong-Su menjulurkan lidahnya.
     “Yah, kau ini egois sekali! Kenapa tidak memesan untukku juga? Aku kan temanmu yang paling baik…” Aku mulai mengomel, sementara Jong-Su terkekeh.
     “Salah sendiri kau bangun kesiangan, jadi tidak sempat turun dulu ke restoran…”
     “Ah, baiklah! Daripada mendengar ceramahmu, lebih baik aku mencari vending machine!”
     Aku keluar dari ruang tunggu sambil menghentak-hentakkan kaki. Campuran antara kesal pada Jong-Su yang pelit, dan kesal pada diriku sendiri yang bangun kesiangan. Akibatnya, sekarang aku kelaparan sendirian karena tidak sempat ikut sarapan. Bahkan menelan seteguk air pun tidak sempat. Padahal pagi ini kami harus rehearsal, dan sorenya langsung dilanjutkan enam jam Fantastic Concert yang pasti akan sangat melelahkan. Aigoo.
      Tapi sebenarnya ini bukan sepenuhnya salahku. Kalau manajer tidak membuat jadwal yang luar biasa padat untuk kami, pasti semalam aku bisa tidur cepat dan tidak akan bangun kesiangan. Selain itu, cuaca Bangkok juga menyumbang kesalahan yang cukup besar. Kalau saja hujan tidak turun sejak pagi dan tidak menciptakan atmosfer yang sangat nyaman untuk tidur, tentunya aku tidak akan senyaman itu bergulung dibalik selimutku. Ah, berarti selimut itu juga bersalah.. Bantal, guling dan tempat tidur yang sangat nyaman di hotel juga bersalah…
     “Hyong, mau ke mana?”
     Aku menoleh, dan mendapati si makdongi sedang berdiri diatas mini scooter berwarna putih.
     “Aku ingin mencari kopi,” sahutku. “Apa kau tadi sempat melihat ada vending machine sebelum masuk kesini?”
     “Tidak.” Young-Min menggeleng. “Hyong ingin minum kopi? Minta tolong saja pada Young-Jun Hyong. Dia sekarang sedang keluar mencari cemilan, siapa tahu bisa sekalian membeli kopi,” sarannya.
     Mendengar ada peluang mendapatkan makanan, aku langsung menuruti saran Young-Min. Menelepon Young-Jun Hyong yang katanya sedang ada di gerai Dunkin’ Donuts dan langsung memberondongnya dengan macam-macam permintaan.
     “Sudah?” tanya Young-Min setelah aku menutup telepon.
     Aku mengangguk riang. Semangatku bangkit kembali. “Makanan akan datang sepuluh menit lagi! Akhirnyaaa.. Kupikir aku harus kelaparan sampai siang…”
     “Salah sendiri Hyong terlambat bangun.” Young-Min nyengir.
     “Ah sudahlah, kau jangan mulai cerewet seperti kakek Kim Jong-Su!” Aku mengibaskan tangan, tak sabar. “Daripada kau menceramahiku, lebih baik kau memberitahuku dari mana kau mendapatkan mainan itu?” tanyaku sambil menunjuk mini scooter yang masih dinaiki Young-Min. Nun jauh disana, Hyun-Ji dan Min-Ho juga tampak sedang menaiki mini scooter yang serupa. Sepertinya seru. Aku ingin bermain juga.
++

Ha-Ra. Summer, 25 Agustus 2008.
     Aku tadinya ingin mencuri-curi tidur sebentar di hotel, selagi para personil New High pergi untuk rehearsal. Toh tidak ada yang bisa kukerjakan di stadion tempat mereka rehearsal. Tapi sayang sekali, Park Young-Jun sudah meneleponku sejak pagi-pagi sekali untuk memastikan aku ikut mereka rehearsal. Katanya ia ingin mengajakku jalan-jalan kalau ada waktu senggang.
     Jadi, disini lah aku sekarang. Terjebak di gerai Dunkin’ Donuts di seberang Rajamangala National Stadium, tempat konser akan digelar, berduaan saja dengan Park Young-Jun. Bukannya aku tidak suka berduaan bersamanya, dia orang yang perhatian dan sebagainya, tapi entah kenapa Young-Jun selaluuu saja membuatku merasa canggung dan tidak pernah nyaman. Tidak seperti pria-pria lainnya. Jin-Ni yang lebih galak saja selalu bisa membuatku rileks saat mengobrol dengannya. Apalagi para personil New High yang rusuh itu, selalu saja bisa membuatku nyaman. Tapi kenapa…
     “Ha-Ra ssi? Kenapa melamun?” Tiba-tiba Young-Jun menepuk pundakku lembut.
     “Oh, aku… tidak… Young-Jun ssi sudah selesai?” Aku tergagap-gagap menyusun kata-kata agar tidak tampak seperti gadis berpikiran kosong yang kerjanya hanya melamun.
     “Sudah.” Young-Jun mengangguk sambil tersenyum semanis madu. “Ayo kita pulang.. Sebelum Sung-Ki mengomel lagi,” ujarnya.
     “Sung-Ki?” Aku mengangkat alis. “Jadi kopi dan seluruh donat itu untuk Sung-Ki? Aku tidak tahu kalau dia kuat makan sebanyak itu..” ujarku seraya melangkahkan kakiku lebar-lebar demi mengimbangi irama langkah Young-Jun yang luar biasa cepat.
     “Ah, tentu saja tidak. Sung-Ki hanya memesan kopi dan sandwich saja, donat-donat ini untuk yang lainnya,” sahut Young-Jun, masih sambil tersenyum.      “Sung-Ki itu member yang paling suka memasak, tapi makannya sangat sedikit. Dia selalu bilang, memasak saja sudah membuatnya kenyang, jadi tidak perlu makan banyak-banyak lagi. Akhirnya kebiasaan terbawa kemana-mana. Meskipun tidak memasak, makannya juga tetap sedikit.”
     “Benarkah?” Entah kenapa, aku tiba-tiba tertarik dengan topik ini. “Sebenarnya, aku masih tidak percaya kalau Sung-Ki bisa memasak. Selama ini aku hanya mendengar dari orang-orang kalau ia sudah seperti ibu dalam grup, tapi Kim Sung-Ki yang kutemui justru berjiwa sangat rebelious dan kekanakan. Tidak ada sedikitpun tanda-tanda kalau dia bisa melakukan pekerjaan wanita.” Aku tersenyum tanpa sadar.
     Young-Jun mengangguk. “Anak yang unik, Kim Sung-Ki itu. Sampai sekarang aku masih belum bisa menebak kepribadiannya yang sebenarnya. Kadang ia sangat rajin, kadang paling malas. Kadang ia sangat keras kepala, kadang menjadi member yang paling mau mengalah. Kadang dia bersikap sangat laki-laki, tapi besoknya aegyo. Termasuk kesukaannya memasak ini, sangat bertentangan dengan kelakuannya saat dihadapkan dengan mobil balap di sirkuit go kart.”
     “Dia juga suka balapan?” Aku mengangkat alis lebih tinggi lagi. Suka memasak sekaligus balapan? Anak ini berkepribadian ganda atau bagaimana sih?
     “Ha-Ra ssi tidak tahu? Dia tidak pernah cerita ya?” Young-Jun menoleh, mencari mataku. Setelah aku menggeleng, barulah ia melempar pandangan ke tempat lain dan mulai bercerita. “Sung-Ki itu sangat suka balapan mobil. Waktu itu kami pernah pergi main go-kart untuk merayakan 100 hari New High debut, dan Sung-Ki bermain sangat gila-gilaan. Diantara member yang lain, dia juga yang pertama mendapat surat ijin mengemudi. Dan kalau menyetir di jalanan, aigoo… benar-benar membuat orang takut. Ngebut seperti orang gila, seolah sedang ada di sirkuit saja,” ujar Young-Jun.
     “Wow… Benarkah?” Aku mengangkat alisku semakin tinggi, hingga menghilang dibalik poni. “Aku sama sekali tidak tahu dia bisa menyetir.” Aku menjawab dengan nada sedatar mungkin, agar tidak kedengaran terlalu kagum. Tapi Young-Jun malah terbahak-bahak.
     “Ah, jangan sampai Sung-Ki mendengarmu mengatakan hal ini, Ha-Ra ssi. Bisa-bisa dia mengomel panjang lebar karena merasa kemampuannya disepelekan,” ujarnya disela-sela tawa.
     “Aku tidak menyepelekan, hanya saja… aku benar-benar tidak tahu kalau Sung-Ki bisa menyetir. Aku bahkan belum pernah melihatnya mengendarai apapun,” sahutku.
     “Kalau Ha-Ra ssi ingin melihat anak itu menjadi gila di sirkuit go-kart, bersabarlah sampai dua atau tiga bulan lagi. Rencananya New High akan membintangi reality show Star’s Driving Lesson. Disana Sung-Ki pasti…”
     Young-Jun mendadak menggantung kata-katanya. Matanya terpancang pada satu titik. Sementara aku mengedarkan pandangan dengan bingung, mencari-cari apa yang sedang dilihatnya sampai harus berhenti bicara. Saat itulah aku baru sadar kalau kami sudah sampai di stadion tempat Fantastic Concert akan diadakan. Dan Young-Jun sedang memandang…
     “Sepertinya tidak perlu menunggu sampai tiga bulan lagi kalau ingin melihat Sung-Ki mengemudi seperti orang gila,” ujar Young-Jun sembari menunjuk seseorang berjaket putih disudut lain stadion, yang sedang membuat manuver zig-zag dengan golf cart putih yang dikendarainya.
     Senyumku mengembang tanpa sadar. Aku tahu aku sedang jatuh cinta pada pandangan pertama melihat sosok Kim Sung-Ki yang sedang mengemudi.
++

Author’s note :
Pendek ya? Emang. hehe.. abisnya kalo dipanjangin jadi nggak seru lagi. Sabar yaahh… *ngomong sabar sama siapa sih aku, ga ada yang baca ini*

For The Very Last Time [CHAPTER 1]

this fiction is dedicated to Coet a.k.a Kim Eun-Suh (the winner of FTVLT casting)

CHAPTER 1

Eun-Suh. Suwon, Maret 2003.
     Namaku Kim Eun-Suh. Umurku 16 tahun. Aku lahir di Seoul, tapi sejak aku mulai masuk sekolah dasar, keluargaku pindah ke Suwon dan menetap hingga sekarang. Kehidupanku sangat sederhana, sama sekali tidak ada yang menarik. Aku bukan anak yang terlalu pintar dan berprestasi di sekolah, dan juga bukan anak yang cantik luar biasa sehingga bisa menjadi model atau bintang iklan. Keluargaku juga bukan termasuk dalam kategori keluarga yang kaya raya, walaupun masih boleh dikatakan berkecukupan. Ayahku bekerja sebagai manajer pemasaran di perusahaan penyedia layanan internet, dan ibuku juru masak di restoran Eropa di pusat kota. Kami bertiga tinggal di rumah kecil berlantai dua di sebuah kompleks perumahan, dengan damai dan bahagia.
     Ugh. Tunggu dulu. Apa aku barusan mengatakan damai? Mungkin harus kuralat kata-kata yang satu itu. Damai untuk kedua orang tuaku, tapi tidak untukku. Karena hidupku tidak akan pernah bisa damai, selama pohon Walnut Cina setinggi sepuluh meter yang tumbuh di halaman samping kami masih mengarahkan dahannya ke jendela kamarku.
     “Kim Eun-Suuuh… aku dataaaang…”
     Benar kan, apa yang kubilang tadi? Ini sudah jam delapan malam, waktunya belajar dan mengerjakan tugas-tugas sekolah, tapi masih saja ada yang bertamu di jendelaku.
     “Kim Eun-Suuuh… aku tahu kau ada di dalam, cepat buka!”
     “Kau mau apa lagi? Ini sudah malam, tahu!” Aku menggerutu sambil membuka gerendel jendelaku. Detik berikutnya, seorang anak laki-laki berpipi tembem melompat masuk ke dalam kamarku dan langsung merebahkan tubuhnya di kasurku, tanpa permisi.
     Namanya Lee Hyun-Ji, tetanggaku. Rumah kami tepat bersebelahan, hanya terpisah halaman seluas enam meter di samping rumahku. Tapi jarak itu sama sekali tidak terasa, berkat pohon Walnut yang kubicarakan tadi. pohon itu berdiri tepat di samping kamarku, dan dahannya yang besar dan kuat menjulur ke segala arah, salah satunya mencapai jendela kamarku di lantai dua, dan yang lainnya lagi melewati batas teritori hingga sampai ke jendela rumah tetangga. Mungkin tidak akan jadi masalah kalau dahan itu menjulur ke depan jendela kamar Tuan dan Nyonya Lee, bukannya ke jendela kamar Hyun-Ji, anak mereka yang sedikit hiperaktif dan usil itu.
     Tapi berkat dahan pohon yang menjembatani kamar kami itulah yang membuat kami menjadi cepat akrab. Aku masih ingat betul, saat aku pertama kali pindah ke Suwon, Hyun-Ji memanjat dari kamarnya hingga ke kamarku untuk memberikan kue ucapan selamat datang –kue itu sebenarnya hanya sepotong roti tawar yang ditulisinya dengan selai coklat, tapi toh berhasil membuatku sangat tersentuh. Dan sejak itu, ia mulai rajin mengunjungiku. Sehari bisa enam atau tujuh kali. Kalau sedang kesusahan, ia akan datang untuk memintaku membantunya mengerjakan pe-er. Saat bosan, ia akan datang untuk mengajakku main atau mengobrol. Pokoknya, selalu ada saja alasan yang membawanya datang kepadaku, bahkan saat tengah malam sekalipun.
     Awalnya kebiasaannya bertamu ke kamarku itu membuatku merasa senang dan tidak kesepian. Tapi lama-kelamaan, ketika aku sudah memasuki masa puberku dimana aku membutuhkan waktu untuk diriku sendiri, kedatangan Hyun-Ji jadi sedikit mengganggu. Apalagi kalau aku sedang jatuh cinta. Biasanya dia datang saat aku tengah duduk di depan jendela sambil mendengarkan lagu-lagu cinta dan membayangkan orang yang kusukai… uh, rasanya ingin sekali kulempar jauh-jauh Lee Hyun-Ji itu keluar jendela!
     Tapi diluar sikapnya yang sangat menyebalkan tentang masalah tamu-tamuan ini, Hyun-Ji adalah teman yang sangat baik. Dia teman pertama yang kumiliki di Suwon. Meskipun agak hiperaktif dan sering usil, tapi sikap Hyun-Ji yang ceria tidak pernah gagal menghiburku dalam keadaan apapun. Hyun-Ji juga merupakan satu-satunya orang yang bisa selalu membuatku nyaman. Dia adalah tempatku menceritakan seluruh rahasia tanpa rasa canggung dan malu. Dia adalah tempatku mengeluh saat sedang banyak pikiran. Dia adalah tempatku menangis saat sedih. Dia juga tempatku marah-marah jika sedang kesal. Meskipun kekesalanku tidak ada hubungannya dengannya, tapi Hyun-Ji tidak pernah protes. Biasanya dia akan duduk diam dan mendengarkanku hingga selesai mengomel, lalu melemparkan salah satu lelucon koleksinya, sampai aku terbahak-bahak dan melupakan kekesalanku. Lee Hyun-Ji itu benar-benar teman yang ideal. Ideal, diluar keisengannya yang sangat mengganggu itu.
     “Yah! Turunkan kakimu yang kotor itu dari tempat tidurku!” Aku berteriak sambil memukul kepalanya yang bulat dengan bantal.
     “Kakiku tidak kotor kok,” sahut Hyun-Ji sambil lalu tersenyum tak berdosa lalu memperlihatkan telapak kakinya yang berwarna merah muda, seperti telapak kaki bayi.
     “Ya, terserah kau saja. Yang penting jangan mengotori tempat tidurku, aku baru saja mengganti spreinya tadi pagi.” Aku mengangkat bahu, lalu kembali ke meja belajar untuk menyelesaikan semua pekerjaan rumahku.
     Entah berapa lama aku berkutat dengan buku-buku pelajaran sekolahku. Aku terlalu sibuk memikirkan timbunan pe-er sampai melupakan makhluk bernama Lee Hyun-Ji yang sedang bergulung-gulung di balik selimut Hello Kitty-ku.
     “Eun-Suh ya, kau sedang apa? Sepertinya sibuk sekali..” Hyun-Ji akhirnya bersuara.
     “Aku sedang membuat pe-er,” sahutku tanpa mengangkat kepala dari buku tulisku. “Kau tahu, pe-erku jadi bertambah dua kali lipat karena ada pelajaran tambahan.”
     “Guru-guru pelajaran tambahan juga senang memberi pe-er?” Tiba-tiba saja Hyun-Ji sudah berdiri disampingku, dan ikut-ikutan melihat buku pe-erku. “Sini kubantu, supaya cepat selesai…”
     “Mana bisa murid grade sembilan mengerjakan pe-er untuk grade sepuluh?” Aku mencibir.
     “Kau meragukan kemampuan otakku yang cerdas? Pe-ermu ini gampang sekali… Aku bisa mengerjakannya dengan mata terpejam,” sahutnya yakin.
     “Tidak, tidak! Kembalikan bukuku!” Aku buru-buru merebut buku pe-erku. “Lebih baik kukerjakan semuanya sendiri sampai pagi daripada harus menerima bantuanmu.”
     “Tapi aku bosan,” keluh Hyun-Ji. Ia cemberut dan mengerutkan bibir seperti Donal Bebek. “Aku datang ke sini untuk mengobrol denganmu, tapi kau malah sibuk sendiri.”
     “Astaga.. aku sedang mengerjakan pe-er, Lee Hyun-Ji. Mengertilah sedikit…”
     “Aku mengerti, makanya biarkan aku membantu. Aku bisa mengerjakan…”
     “Tidak,” potongku cepat sambil melempar tatapan peringatan-tahap-satu-ku pada Hyun-Ji. “Lebih baik kau mendengarkan mp3 playerku, atau bermain dengan boneka-bonekaku, atau… apa saja deh. Asal jangan sentuh pe-erku!”
     “Tapi aku sudah hafal semua lagu di mp3 playermu. Tidak ada yang menarik lagi…” Hyun-Ji menggerutu. “Sudahlah, lebih baik kau menerima bantuanku. Aku ini tulus ingin membantu, lagipula…”
     “Astaga. Baiklah, baiklah.” Aku melotot kesal sambil menyerahkan buku pe-er bahasa Inggrisku -yang soalnya paling gampang- pada Hyun-Ji. “Kau boleh mengerjakannya, tapi JANGAN pernah menuliskan apapun kalau kau tidak yakin dengan jawabanmu. Mengerti?”
     “Arasso!” Hyun-Ji melonjak girang, lalu menyambar pulpenku dan mulai menulis.
     Sementara aku keheranan sendiri melihat ada orang yang bersedia mengerjakan pe-er orang lain dengan riang gembira. Tapi memang begitulah Lee Hyun-Ji. Tetap gembira walaupun harus melakukan hal-hal yang membuat orang lain mengeluh.
++

Hyun-Ji. Suwon, Maret 2003.
     Hai! Aku Lee Hyun-Ji. 15 tahun. Lahir dan besar di Suwon. Kata ibuku, aku ini anak yang bandel dan susah diatur. Ayahku bilang aku nakal dan tukang membantah. Padahal menurutku, aku ini hanya sedikit terlalu banyak bergerak, sedikit terlalu bertenaga, dan punya selera humor yang sedikit terlalu tinggi. Hanya sedikit terlalu. Tidak akan mengganggu, kan?
     “Kim Eun-Suuuh…. Banguuun!” Aku berteriak sekuat tenaga, dari jendela kamarku. Tak ada reaksi. “Kim Eun-Suuuh… cepat bangun! Cepat! Cepat! Cepat!” ulangku.
     Aku sudah hampir berteriak lagi, tapi tiba-tiba jendela lantai dua di rumah seberang terbuka. Diikuti wajah cemberut Eun-Suh yang baru bangun tidur, masih memakai piyama pink berpola stroberi, dengan rambut dibentuk cepol berantakan di puncak kepalanya.
     “YAH! Lee Hyun-Ji! Ini masih jam enam pagi! Bisakah kau memelankan sedikit suaramu?” Eun-Suh tanpak sangat kesal.
     “Aku kan cuma membangunkanmu!” Aku nyengir luar biasa lebar, berusaha menunjukkan tampang polos dan tak bersalah.
     Eun-Suh menggerutu tak jelas tentang ‘membangunkan seluruh kompleks’, sambil merapikan kordennya. Tapi aku sama sekali tidak mendengarkannya. Aku melompat cepat keluar jendela kamarku, lalu merangkak ke seberang sambil berpegang pada batang pohon yang gendut-gendut.
     “Yah! Mau apa kau kemari?” Eun-Suh berkacak pinggang ketika aku sudah hampir sampai ke jendelanya.
     Tapi aku sama sekali tidak berminat menjawab. Aku melompat ringan masuk ke kamar Eun-Suh, menarik gadis itu ke kamar mandi, memakaikan shower cap-nya yang bergambar Hello Kitty, lalu menyalakan shower.
     “Apa yang kau lakukan, Lee Hyun-Ji? Cepat keluar dari kamar mandiku!” Eun-Suh melepas shower cap yang tadi kupasangkan sambil membelalakkan mata.
     “Aku akan memandikanmu, Kim Eun-Suh!” sahutku riang gembira, sembari memaksa Eun-Suh memakai shower cap-nya lagi.  Gadis itu sudah membuka mulut hendak mengomel ketika aku mengarahkan shower tepat ke wajahnya yang masih mengantuk.
     “YAH! LEE HYUN-JI! APA YANG KAU… YAH!” Eun-Suh gelagapan menutup wajahnya dengan tangan sambil terus berteriak-teriak marah. Sementara aku terbahak-bahak.
     “Bukankah aku teman yang baik?” Aku nyengir lebar.
     “Teman yang baik macam apa? Cepat keluar dari kamar mandiku!” Eun-Suh menggerung marah, dan berusaha merebut shower dari tanganku.
     “Tentu saja aku teman yang baik,” sahutku sambil berkelit menghindari tangan Eun-Suh yang terjulur. “Pagi-pagi begini aku sudah datang dan memandikanmu, si gadis pengantuk yang malas bangun pagi!”
     Eun-Suh masih terus berusaha merebut shower, sambil melindungi wajahnya dari semprotan air. “Yah! Kuberi tahu kau, Lee Hyun-Ji! Kau adalah teman terburuk yang pernah kupunya!” erangnya. “Sekarang, hentikan acara main-main shower-mu dan cepat pergi dari sini! Kau membuat seluruh kamar mandiku basah! Cepat pergi!”
     “Aku tidak akan pergi sebelum kau benar-benar bersih,” sahutku sambil menjulurkan lidah dan kembali mengarahkan shower ke wajah Eun-Suh. Tapi kali ini gadis itu tidak mau kalah. Eun-Suh menerjangku dengan seluruh kekuatan yang ia punya, lalu merebut shower dan gantian menyemprotku dengan air sediingin es.
     “Kim Eun-Suh! Kau ini jahat sekali! Aku kan hanya ingin membantumu mandi…” Aku menjerit protes sambil berusaha merebut shower kembali.
     Tapi Eun-Suh tidak menyerah. Ia malah tertawa sinis, lalu mengambil botol shamponya aroma stroberi dan menuangkan isinya ke rambutku. “Satu-satunya yang perlu dimandikan adalah kau, Lee Hyun-Ji! Rasakan ini, serangan busa shampo…!” teriaknya sembari  mengacak-acak rambutku tanpa ampun, sampai seluruh kepalaku dipenuhi busa-busa pink
     Akhirnya dari semua ini tentu sudah bisa ditebak. Kami berdua terlibat perang air yang sengit, sampai seluruh kamar mandi Eun-Suh becek dan penuh dengan busa-busa shampo.
     “Yah! Hentikan sekarang juga, Lee Hyun-Ji!” Tiba-tiba Eun-Suh berteriak disela-sela perebutan shower yang seru.
     “Tidak akan!” sahutku sambil terus mempertahankan posisi shower agar tetap mengarah ke wajah Eun-Suh yang sekarang sudah basah kuyup dan jelek. “Kecuali kau mau minta maaf karena membuat rambutku jadi beraroma menjijikkan seperti ini!”
     “Minta maaf? Memangnya siapa yang mulai duluan?” balas Eun-Suh sengit. “Siapa yang merayap ke kamarku seperti cicak, lalu masuk ke kamar mandiku dan menyemprotku dengan shower?”
     “Aku kan hanya ingin membantumu mandi!” sahutku tidak mau kalah.
     “Memangnya siapa yang meminta bantuanmu?” Eun-Suh melotot.
     “Kalau tidak kubantu, kau bisa menghabiskan dua jam untuk mandi dan kita bisa terlambat berangkat ke sekolah!”
     “Yah! Dengar, kau bisa mandi lebih cepat kalau kau tidak datang kesini dan menggangguku!”
     “Jadi, kau menyalahkan aku?”
     “Tentu saja! Ini semua salahmu! Kalau kau tidak datang dan…. YAAAH! LEE HYUN-JI!”
++

Eun-Suh. Suwon, Maret 2003.
     Aku sedang mengambil jaket dari rak pakaian bersih di ruang setrika ketika bel berbunyi, disusul suara riang gembira yang sudah sangat kuhafal.
     “Selamat pagi, Bibi!” Lee Hyun-Ji berseru riang. “Apa Eun-Suh Noona sudah siap?”
     “Selamat pagi, Hyun-Ji!” Aku bisa mendengar suara ibuku yang tidak kalah ceria dengan suara Hyun-Ji. “Eun-Suh baru saja selesai sarapan, mungkin sekarang sedang mengambil sepatu. Kau sudah sarapan?”
     “Belum. Ibuku sedang pergi ke Seoul, jadi tidak ada yang memasak,” sahut Hyun-Ji.
     “Lalu bagaimana? Apa kau mau sarapan dulu sambil menunggu Eun-Suh?” Ibuku yang baik tentu saja menawarkan sarapan melihat anak malang yang berdiri di depan pintunya itu.
     “Tidak usah, Bibi. Nanti aku akan membeli makanan di sekolah saja.” Hyun-Ji menyahut dengan nada bicara yang terdengar biasa saja bagi orang awam seperti ibuku. Tapi telingaku yang tajam ini jelas bisa mengenali maksud licik dibalik suara manisnya.
     “Oh, kebetulan Bibi membuat sandwich keju untuk bekal Eun-Suh. Kau mau juga, ya? Supaya tidak kelaparan di sekolah…”
     Aku tidak perlu mendengar untuk tahu apa jawaban Hyun-Ji. Sandwich buatan ibuku adalah surga baginya. Dia tidak mungkin menolak. Bahkan kalau ibuku tidak menawarkan pun, dia akan tetap mendapatkannya dengan cara paksa, alias merebut bekalku saat di sekolah nanti.
     “Ayo kita berangkat!” Aku menyeruak ke pintu depan sebelum ibuku sempat beranjak dari tempatnya untuk mengambilkan sandwich untuk Hyun-Ji.
     “Ah, Eun-Suh Noona sudah siap?” tanya Hyun-Ji sambil memasang senyum yang dimanis-maniskan, tapi kedua matanya menatapku marah. Marah karena aku muncul sebelum sandwich surgawi ibuku sampai ke tangannya.
     “Sudah. Ayo!” sahutku tanpa memedulikan tatapan membunuh Hyun-Ji, lalu mencium pipi ibuku. “Omma, aku pergi dulu!”
     “Eh, tunggu sebentar! Omma baru mau mengambilkan sandwich untuk Hyun-Ji!” Ibuku yang baik berusaha menghentikan langkah kami. Tapi aku tentu saja sudah punya strategi untuk mengantisipasi ini. Pokoknya, aku tidak akan membiarkannya mendapatkan sandwich hari ini, sebagai balas dendam atas kelakuan Hyun-Ji tadi pagi.
     “Ah.. tidak perlu. Hyun-Ji bisa membeli makan di kantin sekolah,“ sahutku cepat, sembari mengerling ke arah Hyun-Ji yang sekarang sudah melotot dibelakang punggung ibuku. “Kami harus berangkat sekarang kalau tidak mau terlambat.”
     Ibuku tampak ragu sejenak, tapi akhirnya mengangguk dan membiarkan kami pergi. “Ah, baiklah… Jangan lepas jaketmu ya, Eun-Suh! Angin diluar sudah mulai dingin.”
     “Tenang saja, Bibi. Aku akan mengawasi Eun-Suh Noona agar tidak masuk angin!” sambar Hyun-Ji sambil menyeringai kepadaku.
     “Terima kasih, Hyun-Ji! Kau baik sekali.” Ibuku yang lugu tampak terharu dengan sikap manis Hyun-Ji. “Hati-hati dijalan, kalian berdua!”
++

Hyun-Ji. Suwon, Maret 2003.
     “Kau tahu, aku sudah selangkah lagi mendapatkan sandwichku dan kau merusak segalanya,” ujar Hyun-Ji keras, melawan suara angin ketika sepeda yang kami tumpangi melesat cepat di jalan kecil yang aspalnya sudah mulai berbocel-bocel disana-sini.
     Aku mengencangkan peganganku ke pinggang Hyun-Ji sambil tertawa. “Itu balasan untukmu karena sudah mengotori kamar mandiku tadi pagi.”
     “Kau ini benar-benar tidak tahu terima kasih, Kim Eun-Suh.” Hyun-Ji menggeram. “Niatku menyemprotkan air kan hanya untuk menyegarkan pikiranmu, supaya kau cepat bangun dan tidak malas-malasan lagi. Tapi kenapa kau malah menyalah-nyalahkan aku?”
     “Oh, diam kau, Lee Hyun-Ji! Pembelaanmu itu sama sekali tidak masuk akal!” sahutku cepat.
     “Kau yang diam, Kim Eun-Suh. Pokoknya, kau harus memberikan sandwichmu padaku atau…”
     “Atau apa?”
     “Atau aku tidak akan pernah memberimu tumpangan ke sekolah lagi. Selamanya.”
     Aku terbahak sambil mencondongkan kepalaku ke depan, agar bisa melihat wajah Hyun-Ji yang cemberut. “Silakan saja! Memangnya siapa yang butuh tumpanganmu? Aku bisa berangkat ke sekolah naik sepedaku sendiri!”
     “Kau tidak akan bisa pergi ke sekolah tanpaku, Kim Eun-Suh. Lihat saja nanti,” ujar Hyun-Ji dengan nada mengancam, sembari melirikku lewat sudut matanya.
     Aku tertawa semakin keras tapi tidak membalas lagi. Tidak ada gunanya berdebat dengan Hyun-Ji. Hanya membuang-buang waktu dan tenaga. Sejak pagi-pagi buta aku sudah dibuat sangat lelah gara-gara insiden di kamar mandi tadi, dan sekarang aku tidak butuh berdebat omong kosong lagi dengan Hyun-Ji.
Kami sudah hampir sampai di gerbang sekolah, ketika aku menemukan satu pertanyaan lagi untuk tetanggaku yang menyebalkan itu.
     “Yah! Lee Hyun-Ji! Kenapa kau hanya memanggilku Noona saat didepan para orang tua?”
     Aku bisa melihat Hyun-Ji mengerutkan kening sejenak sebelum menjawab, “Karena kita lahir di tahun yang sama, ingat?”
     “Tapi aku tetap saja lebih tua darimu. Ulang tahunku bulan Februari, sedangkan kau bulan Desember. Tahun ini aku akan LULUS grade sepuluh, dan kau baru akan NAIK ke grade sepuluh. Ingat?” Aku balas bertanya. “Jadi, seharusnya kau selalu memanggilku Noona, dan berbicara dalam bahasa yang lebih sopan padaku.”
     “Bagiku sama saja. Selama kita masih lahir di tahun yang sama, aku tidak akan pernah menganggapmu lebih tua dariku,” sahut Hyun-Ji acuh tak acuh. “Kecuali… di depan orang tua kita. Aku tidak mau dimarahi ibuku karena dianggap bersikap tidak sopan padamu.”
     “Kau memang pantas dimarahi. Kau seharusnya memanggilku Eun-Suh NOONA, Lee Hyun-Ji,” ujarku sambil memberi penekanan penuh pada kata Noona.
     “Tidak akan pernah, Kim Eun-Suh.” Hyun-Ji menyahut tepat ketika kami tiba di gerbang sekolah. Ia turun dari sepedanya, sementara aku melompat turun juga dari kursi penumpang dan mendarat disampingnya.
     “Kau akan selalu menjadi Kim Eun-Suh bagiku, bukannya Eun-Suh Noona.”
++

Author’s note :
waw, 1st chapter! panjang dan penuh dengan pertengkaran. hihi. semoga chapter ini tidak terlalu gagal yahh… happy reading, everyone! don’t forget to leave your comments!
arasso : I understand
noona : panggilan untuk perempuan yang lebih tua (oleh laki-laki)

There’s Something Between Us [CHAPTER 15]

currently listening : SNSD – Tell Me Your Wish

CHAPTER 15

theres something-poster chap 15

Ha-Ra. Summer, 24 Agustus 2008.
     “Ah… es krim…” Sung-Ki bersorak kegirangan seperti anak berusia lima tahun ketika akhirnya kami sampai di kedai Ben & Jerry’s, setelah menempuh sepuluh menit perjalanan naik bus dari hotel.
     “Ya sudah, cepat pilih! Kali ini aku yang traktir!” Aku tidak bisa menahan senyum. Kegembiraan Sung-Ki rupanya bisa menular juga.
     “Aku ingin rasa raspberry… dan Noona… rasa karamel ya?” Ia melirikku penuh arti.
     “Tidak mau. Aku ingin rasa coklat saja..” sahutku cepat. Aku sudah tahu apa yang diinginkan Sung-Ki dengan tatapannya yang seperti itu. Dan aku harus cepat-cepat membentengi diri sebelum dia melangkah lebih jauh lagi.
     “Tapi rasa coklat terlalu biasa.. dimana-mana rasa coklat tetap tidak akan berubah.” Sung-Ki mulai merajuk. Dugaanku seratus persen benar.
     “Tidak apa-apa. Aku ingin rasa coklat saja,” sahutku, mulai defensif.
     “Karamel saja lebih enak…” Sung-Ki semakin merajuk. Ia bahkan sudah memasang ‘wajah menggoda’nya yang biasa. Tapi aku tidak akan tergoda. Aku TIDAK AKAN tergoda.
     “Tahu dari mana kalau lebih enak? Kau belum pernah mencoba, kan?”
     “Aku memang belum pernah mencoba. Makanya sekarang aku ingin mencoba.”
     “Nah, kalau begitu kenapa tidak kau saja pesan karamel?” Aku masih berusaha agar tidak masuk dalam perangkapnya.
     “Aku ingin mencoba raspberry juga. Nanti kalau Noona memesan karamel kan aku bisa mencoba milik Noona..” sahut Sung-Ki polos.
     Aku mengangkat alis tinggi-tinggi. “Kata siapa aku mau berbagi denganmu?”
     “Yah… Noona…” Sung-Ki mulai merajuk lagi.
     “Aku sama sekali tidak mau berbagi denganmu. Lagipula aku mau memesan rasa coklat saja…” sahutku, tegas.
     “Ah, karamel saja… ya, Ha-Ra Noona yang baik?” Sung-Ki mengedip-kedipkan matanya.
     “Tidak. Kalau kau memang ingin rasa raspberry DAN karamel, kenapa tidak memesan dua-duanya?” Aku mendecakkan lidah. Gemas sekali pada sikap keras kepala Sung-Ki.
     “Kalau begitu terlalu kenyang…” sahut Sung-Ki. “Noona saja yang memesan rasa karamel, nanti aku minta sedikit. Cuma sedikit kok, satu sendoook saja… ya?”
     “Tidak…”
     “Noona, pleaseee….”
     “No way!” Aku menggertakkan gigi. Berusaha menghindari tatapan mata Sung-Ki yang beracun.
     “Pleaseee… The very kind-and-beautiful Ha-Ra Noona, please?” Sung-Ki tetap merajuk. Bahkan ia sudah mulai bergelayut di lenganku seperti anak umur lima tahun yang merajuk agar ibunya mau membelikan permen.
     “Pleaseee… Okay? Okay?”
     “Oh!” Aku mendengus sambil memelototi Sung-Ki yang masih memasang tampang beracunnya. “How could I resist and say no if you keep doing this to me? Stupid Sung-Ki!”
++

Sung-Ki. Summer, 24 Agustus 2008.
     “Noona, say KIMCHI!” Aku berteriak sebelum menekan tombol kamera polaroidku, sementara Ha-Ra mengacungkan jari telunjuk dan jari tengahnya sambil tersenyum lebar. Kami memutuskan untuk jalan kaki kembali ke hotel, supaya bisa menikmati pemandangan dan berhenti di tempat yang menarik untuk berfoto-foto.
     “Ah, lihat! Gambarnya sudah mulai keluar!” Ha-Ra berseru kegirangan sambil mengipas-ngipas lembaran polaroid yang sudah mulai berwarna. Gadis itu selalu tampak gembira setiap kali berurusan dengan kamera, entah kenapa.
    “Noona, bagaimana kalau kita foto bersama?” Aku memberi usul.
    “Tapi siapa yang mengambil fotonya?” tanya Ha-Ra, tampak agak kebingungan. “Kalau kameranya kita pegang sendiri, pemandangan dibelakang sana tidak akan terlihat!”
     Aku memutar otak sejenak. Setelah sempat mempertimbangkan self-timer, akhirnya aku memutuskan untuk mencegat pria paruh baya yang melintas didepan kami.
     “Excuse me, Sir,” ujarku, berusaha sesopan mungkin agar pria itu tidak terkejut. “Can you help me? I want to take a photo with my…”
     “Oh… Take a photo.. You and your girlfriend?” Ia melirik aku dan Ha-Ra sambil tersenyum penuh arti.
     “Yes.. Here is my camera,” sahutku, tanpa pikir panjang.
     “Okay, okay..” Pria itu tersenyum lagi, lalu mulai menghitung mundur sementara aku dan Ha-Ra berpose.
     Setelah menghasilkan lima lembar foto, aku menghampiri pria itu dan membungkuk sopan. “Thank you very much, Sir!”
     “You’re welcome!” Pria itu mengangguk. “Foreigner? Where do you come from?” tanyanya dalam bahasa Inggris yang belepotan. Ia tampaknya tertarik pada wajahku yang sangat Asia Timur.
     “We’re from Seoul, South Korea,” sahutku.
     “Oh, okay… Enjoy your trip here, okay?” Pria itu tersenyum lagi. “Don’t forget to take care of your pretty girlfriend. The weather always changes drastically these day. She can catch a cold.”
     “Thank you, Sir. I’ll protect her.”
++

Ha-Ra. Summer, 24 Agustus 2008.
     “I’ll protect her.”
     Aku tidak mendengar seluruh percakapan Sung-Ki dan pria itu, tapi kalimat terakhirnya cukup membuat jantungku berhenti selama sepersekian detik. Kenapa dia harus mengucapkan kalimat itu dengan begitu serius? Aku tidak pernah bisa mengontrol aktifitas jantungku setiap kali Sung-Ki bicara dalam nada yang itu.
     “Orang itu mengira Noona adalah pacarku. Lucu sekali, ya?” Sung-Ki tiba-tiba sudah kembali ke sisiku sembari tertawa kecil. “Apa kita kelihatan seperti sepasang kekasih yang sedang menikmati liburan romantis disini?”
     “Tentu saja tidak. Orang itu jelas asal bicara.” Aku berusaha tampak tidak peduli. Padahal debar jantungku masih tidak terkendali. “Aku sudah tampak terlalu tua untuk jadi pacarmu,” tambahku.
     Sung-Ki tiba-tiba menoleh dan menatapku. “Siapa bilang? Noona tidak tampak tua kok…”
     “Benarkah?” Aku balas menatapnya. Mulai sedikit berbunga-bunga. Tapi Sung-Ki malah nyengir lebar sekali, lalu tertawa lagi.
     “Tidak sih, sebenarnya aku hanya berbohong untuk menyenangkan Noona saja,” ujarnya.
     Aku mengangkat alis. Tak terima. “Jadi kau ingin bilang kalau aku memang tampak tua?”
     “Memang begitu kan kenyataannya? Kerutan diwajah dan gelambir di lengan Noona sudah menunjukkan tanda-tanda penuaan dini…” Sung-Ki menjawab dengan wajah tak berdosa. Tapi begitu aku menyipitkan mata, dia langsung meralat kata-katanya.
     “Tidak, tidak… Aku hanya bercanda, Noona…” ujarnya sambil tertawa.
     “Kau menyebalkan, Kim Sung-Ki.” Aku menggertakkan gigi, lalu membuang muka dan berjalan cepat meninggalkan laki-laki itu.
     “Yah! Honey! Don’t be angry… Honey!” Sung-Ki terbahak-bahak sambil berusaha mengejarku.
     “Don’t call me honey! I’m not your honey!”
     “Yah! Honey, where are you going? Honeeeeeeeey!”
++

Author’s note :
this is my FAVOURITE chapter! bagian key ngerayu ha-ra biar mau beli es krim yang dia pengen itu bikin aku ngakak sendiri pas nulis ^^ BUT, sorry for grammatical errors.. english-ku ngga terlalu bagus, uda gitu kan orang Korea biasanya englishnya juga pas-pasan, jadi aneh dong kalo terlalu perfect *ngeles* haha… oke deh, happy reading yahh! and leave your comments!

For The Very Last Time [PROLOGUE]

currently listening : Brown Eyes – Don’t Go

for the very last time 

PROLOGUE

Seoul, Winter 2008.
     Pintu apartemen 8A terbuka, diikuti suara Shin Jin-Ni yang menggelegar memanggil para personil New High, seperti guru yang sedang mengabsen murid-murid di kelas. Mereka berdatangan satu per satu dan dengan patuh berkumpul di ruang tv. Kim Jong-Su, diikuti teman sekamarnya, Kim Sung-Ki, lalu disusul Choi Min-Ho dan Lee Young-Min.
     “Dia masih belum mau keluar kamar?” Jin-Ni mengangkat alisnya, ketika menyadari hanya empat orang yang menjawab panggilannya.
     “Belum, Hyong. Kami sudah tidak tahu lagi bagaimana cara membujuknya,” sahut Lee Young-Min, yang paling muda diantara mereka. Raut wajahnya jelas menampakkan keputusasaan. “Dan dia juga belum mau makan apa-apa sejak semalam.”
     “Sudah ada yang mencoba mengajaknya bicara?” tanya Jin-Ni lagi, sembari memandangi wajah-wajah yang tampak khawatir itu satu per satu.
     “Kami sudah menggunakan segala macam cara, Hyong.” Kali ini Kim Sung-Ki yang menjawab. “Aku dan Jong-Su juga sudah membelikan pai apel untuknya. Tapi disentuh pun tidak. Bahkan, ia belum bergerak sedikitpun dari tempat duduknya sejak tadi pagi.”
     Jin-Ni menggerak-gerakkan kakinya dengan gelisah, lalu kembari menatap keempat laki-laki muda dihadapannya. “Akan kucoba bicara padanya,” ujarnya sembari melangkah ke kamar yang letaknya paling ujung. Tanpa bicara lagi, ia langsung membuka pintu kamar itu dan menemukan pemandangan yang persis seperti apa yang tergambar dalam benaknya. Kamar itu luar biasa berantakan. Bed cover dan seprai sudah meninggalkan tempat yang semestinya. Bantal dan guling teronggok di sudut. Buku-buku, komik, bingkai foto, music sheet, bahkan ponsel dan dompet juga dibiarkan berserakan di lantai begitu saja.
     Sedangkan si empunya kamar, belum berganti pakaian sejak kemarin siang, belum bergerak dari tempatnya sejak pagi. Ia masih duduk di meja belajarnya, dengan tangan memeluk lutut dan kepala disandarkan ke kaca jendela. Matanya terpancang pada butir-butir salju yang berjatuhan di luar jendela. Rahangnya mengeras dan mulutnya terkatup rapat, seolah ia tidak berminat untuk bicara lagi selama-lamanya.
     “Lee Hyun-Ji…” Jin-Ni berusaha mengeluarkan suara selembut mungkin agar tidak mengagetkan laki-laki yang hampir berubah menjadi patung batu itu. “Kau baik-baik saja? Kenapa kau belum menghabiskan makan siangmu?” tanyanya sembari mengerling nampan penuh makanan yang diletakkan diatas kasur.
     Tapi lelaki muda bernama Lee Hyun-Ji itu sama sekali tidak merespon. Bahkan menoleh pun tidak. Seolah-olah suara Jin-Ni hanyalah bisikan angin yang sama sekali tidak penting untuk didengarkan.
     “Dengar, Hyun-Ji. Kau bisa sakit kalau terus-terusan seperti ini.” Jin-Ni mencoba bicara lagi. “Kumohon, dengarkan aku sekali ini saja. Kau harus makan lalu membersihkan dirimu. Kau tidak bisa terus-terusan seperti ini, Hyun-Ji. Kumohon.”
     Lagi-lagi, Lee Hyun-Ji tetap tidak bergeming. Ia masih duduk memeluk lutut, tidak bergerak, tidak bersuara sedikitpun. Bahkan, irama nafasnya pun nyaris tak terdengar. Mungkin ia sudah benar-benar berubah menjadi porselen sekarang.
     Menanggapi kebisuan itu, Jin-Ni akhirnya kehabisan kesabaran. Ia sudah nyaris meledak marah, ketika tiba-tiba Choi Min-Ho masuk ke dalam kamar dan menarik tangannya, mengajaknya keluar dari sana. “Hyong, kurasa tidak ada gunanya kita bicara padanya sekarang,” ujar Min-Ho. “Biarkan dia mengatasi perasaannya sendiri. Kita tidak akan bisa membantu apa-apa saat ini.”
     “Tapi, dia bisa…” Jin-Ni berusaha memberikan alasan, tapi Min-Ho lebih cepat memotong lagi.
     “Kita tidak bisa membantu apa-apa, Hyong,” ujarnya sembari tersenyum simpul. “Ayo, Hyong! Biarkan dia sendiri.”
     Dan ketika Min-Ho kembali menarik tangannya, Shin Jin-Ni tidak lagi melawan. Ia melemparkan tatapannya kepada Lee Hyun-Ji yang masih bergerak sedikitpun itu sekilas, sebelum akhirnya beranjak keluar kamar dan menutup pintu dibelakangnya.

Now I remember the day
When we said goodbye for the very last time
But no one can take you away,
’cause here in my memories, there’s never a very last time
Never a very last time.

++
 

Readers, this is a story about Lee Hyun-Ji, the leader of New High, and his childhood friend. Get ready to be intimidated!
P.S. : comments are extremely allowed!

There’s Something Between Us [CHAPTER 14]

CHAPTER 14

Ha-Ra. Summer, 24 Agustus 2008.
     Aku melangkahkan kakiku sangat perlahan, seolah semakin lambat gerakku bisa semakin mengurangi ketakutanku. Kami sudah tiba di Bangkok. Suasana di bandara nyaris sama ramainya dengan hiruk pikuk di Incheon, tapi sedikit lebih terkendali karena barisan fans dibatasi oleh pita tebal berwarna kuning dan dijaga oleh puluhan petugas keamanan bertubuh kekar. Tapi tetap saja aku tidak bisa santai. Apalagi sekarang tidak ada Sung-Ki yang bisa dijadikan pegangan. Dia dan member New High lainnya harus jalan duluan bersama para manajer dan staf promotor konser karena harus segera menemui wartawan yang sudah menunggu di lobby depan.
     Ah, baiklah. Aku tidak boleh selemah ini. Aku harus bisa jalan sendiri menembus kerumunan itu. Lagipula, disini ada dua lusin bodyguard dan petugas keamanan yang akan menolongku kalau ada antifans yang menyerang lagi. Apa yang harus aku takutkan? Tidak akan ada apa-apa, semuanya aman dan…
     “Ha-Ra ssi! Kenapa jalannya lambat sekali? Aku mencarimu kemana-mana, kupikir kau hilang lagi!” Tiba-tiba Young-Jun muncul dan langsung menggenggam tanganku.
     “Ah, Young-Jun ssi!” Aku bisa merasakan darahku mengalir naik dan membentuk semburat-semburat merah di kedua pipiku. “Aku hanya.. aku tidak…”
     “Ayo! Sebaiknya kita segera menyusul yang lain, kalau tidak mau ketinggalan bus.” Young-Jun memotong ucapanku sembari tersenyum lebar. Ia menarik tanganku, melewati kerumunan fans yang mengusung poster dan balon-balon penuh warna, melewati barisan sekuriti, dan bergabung bersama yang lain.
      Tadinya aku sudah mulai bisa menguasai rasa panas dipipiku, tapi Young-Jun tidak juga melepaskan genggamannya. Bahkan setelah kami masuk ke bus pun nampaknya ia masih belum berniat melepaskan tanganku. Akhirnya, tentu sudah bisa ditebak, kami berdua duduk berdampingan seperti sepasang kekasih yang sedang kencan. Dan jangan tanya wajahku semerah apa.
     “Young-Jun ssi…” Aku berbisik. Tadinya aku berniat meminta Young-Jun melepaskan tanganku, tapi pria itu malah angkat bicara duluan.
     “Aku senang sekali bisa akhirnya bisa duduk di sebelah Ha-Ra ssi,” ujar Young-Jun. Aku baru memperhatikan kalau wajahnya juga memerah. Demi Tuhan, ini seperti adegan dalam opera sabun murahan. Aku sama sekali tidak tahu harus bicara apa.
     “Sejak tadi, di pesawat, aku sebenarnya mendapat tempat duduk di sebelah Ha-Ra ssi, tapi Sung-Ki sama sekali tidak mau melepaskanmu,” lanjut Young-Jun sembari mengembangkan senyumnya. “Dia terlalu khawatir pada keadaanmu, tidak ingin kau hilang lagi seperti kejadian di bandara tadi.”
     Aku mengerling ke arah Sung-Ki yang duduk tiga baris didepan kami, dan membuka-tutup mulut, tanpa tahu harus menjawab apa. Berkali-kali seperti itu, sampai akhirnya Young-Jun bicara lagi.
     “Sung-Ki itu anak tunggal dalam keluarganya, makanya sangat keras kepala dan mau menang sendiri. Tapi saat bersama Ha-Ra ssi, sikapnya sedikit melunak. Dia bahkan lebih menurut padamu daripada pada kami, manajer-manajernya.” Ia mengerling Sung-Ki sekilas. Air mukanya sejenak berubah, sebelum akhirnya pria itu tersenyum lebar dan menatapku. “Tapi, aku senang melihatnya. Dia sepertinya menyayangimu seperti menyayangi kakak kandungnya sendiri.”
     “Mmm, ya… Sung-Ki memang… dongsaeng yang baik…” sahutku, terbata. Aku benar-benar tidak tahu, kemana arah pembicaraan ini.
     “Dongsaeng yang baik dan sangat protektif,” sambung Young-Jun. Senyumnya masih tersungging. Tiba-tiba pria itu mengangkat tanganku yang masih bersarang dalam genggamannya. “Aku jadi penasaran ingin mendengar apa yang dikatakannya tentang kita…”
     Oh, Tuhan. Tunggu sebentar. Apa katanya tadi? Tentang… kita? Kita? Memangnya apa yang terjadi diantara KITA?
++
Sung-Ki. Summer, 24 Agustus 2008.
     “Sung-Ki ya! Ayo bangun!”
     Aku menguap lebar ketika samar-samar terdengar suara yang sudah sangat kuhafal. Tapi aku sedang tidak ingin bicara pada siapapun. Aku masih ingin tidur. Aku sama sekali tidak ingin bangun. Sama sekali tidak ingin.
     “Kim Sung-Ki, kita sudah sampai di hotel. Ayo turun! Memangnya kau ingin menginap di bus atau bagaimana?” ulang suara itu lagi. Semakin keras, semakin tidak sabar.
     Aku menarik jaket yang kualihfungsikan menjadi selimut semakin ke atas, sampai seluruh wajahku tertutup. “Noona, aku ngantuk sekali…”
     “Iya, aku tahu. Tapi kita harus turun sekarang,” sahut Ha-Ra.
     “Tapi aku ngantuk sekali.” Aku menguap sangat lebar, sampai-sampai suaraku tertelan habis. “Noona kan tahu sendiri, aku hanya tidur tiga jam di pesawat karena mengobrol dengan Noona. Sampai disini masih harus konferensi pers berjam-jam, dan nanti malam ada recording acara televisi. Aku masih sangat jet lag dan…”
     “Aku tahu, Kim Sung-Ki. Tapi kau kan tidak mungkin tidur di bus. Sekarang turun dan kau bisa melanjutkan tidur di dalam,” sahut Ha-Ra dengan gaya bicara seolah-olah sedang berbicara dengan balita.
     Kesal dengan kecerewetan Ha-Ra, aku terpaksa menegakkan tubuh sambil cemberut. Gadis itu sudah mulai memberesi jaket, bantal leher, headphone, MP3 player, dan barang-barangku yang lain, ketika tiba-tiba aku mendapat ide cemerlang.
     “Noona…”
     “Ada apa lagi?” Ha-Ra berdecak kesal. “Ayo cepat bangun… yang lain sudah turun dari bus…”
     “Aku ingin makan es krim…” Aku mulai mengeluarkan jurus merajuk yang paling jitu. Ha-Ra sudah sekali memperlakukan aku seperti balita, jadi kenapa aku tidak boleh bertingkah seperti anak-anak?
     “Es krim? Kenapa tiba-tiba…” Sesaat gadis itu menatapku keheranan, tapi akhirnya mengangguk pasrah. “Ya sudah, kalau begitu cepat bangun supaya kita bisa turun dan mencari es krim..” lanjutnya.
     “Noona mau menemaniku mencari es krim?”
     “Iya…”
     “Benar?” Aku membelalakkan mata, tak percaya kalau rayuanku berhasil.
     “Iya, aku akan menemanimu, asal kau bangun sekarang!” sahut Ha-Ra sembari menarik tanganku, memaksaku bangkit berdiri. Tanpa ragu-ragu lagi, aku langsung bangun, melingkarkan sebelah tangan ke pundak Ha-Ra dan turun bersama.
++

Author’s note : cheesy chapter. ouchh, sorry.

There’s Something Between Us [CHAPTER 13]

CHAPTER 13

Ha-Ra. Summer, 24 Agustus 2008.
     Aku merasakan genggaman tangan Sung-Ki semakin kuat ketika kami melangkah turun dari van. Fans diluar sepertinya benar-benar kelebihan tenaga. Mereka berteriak-teriak histeris seperti orang gila, dan tak henti-hentinya saling mendorong. Beberapa bahkan menjulur-julurkan tangan dengan ganas.
      Baru setengah jalan, mataku  sudah dibutakan lampu blitz yang menyala dari segala arah, sampai tidak bisa lagi melihat jalan. Aku hanya bisa memercayakan keselamatanku pada orang yang menggenggam tanganku, yang juga berjalan terhuyung-huyung, berusaha menjaga agar tubuhnya tetap tegak meski didorong-dorong dari segala arah.
     Perjalanan yang seharusnya bisa ditempuh hanya dalam dua menit itu memakan waktu berpuluh-puluh kali lipat lebih lama. Aku sudah mulai lelah dengan teriakkan fans yang memekakkan telinga, ketika tiba-tiba terdengar teriakan melengking dari arah kiri dan tangan Sung-Ki menghilang dari genggamanku. Aku terpaksa mendongak, memaksa mataku melawan cahaya blitz dan melihat Sung-Ki dibawa lari oleh bodyguard. Sementara aku terjebak sendirian dalam lautan gadis-gadis yang histeris, tepat seperti yang dikatakan Sung-Ki tadi. Aku mencoba menerobos kerumunan dangan susah payah, tapi tidak berhasil. Aku nyaris menangis, ketika tiba-tiba seseorang berseragam biru membuka jalan di depanku, sementara tubuhku yang sudah lemas dipapah dua tangan yang berbeda, dibawa ketempat yang aman.
     Ketika lampu blitz dan suara-suara bising sudah mulai menghilang, tiba-tiba salah seorang penyelamatku menghentikan langkahnya. “Ha-Ra ssi, apa kau baik-baik saja?” tanyaku.
     Aku, yang masih belum sepenuhnya sadar dari shock, berusaha menoleh, mencari wajah orang yang mengajakku bicara. Ternyata Park Young-Jun. Sedang menatapku dengan khawatir.
     “Kau baik-baik saja, Ha-Ra ssi?” ulang Young-Jun. Ia tampak benar-benar khawatir padaku. Wajahnya yang tampan penuh keringat, dahinya pun berkerut-kerut khawatir.
     “A-aku… ba-baik baik s-ssaja,” sahutku, terbata-bata seperti anak umur dua tahun sedang belajar bicara. Sepertinya agorafobia benar-benar sukses menyerang syaraf bicaraku kali ini.
     “Noona benar-benar baik-baik saja? Tidak ada yang luka, kan?” Kali ini Min-Ho yang buka mulut. Aku baru sadar kalau member New High yang paling pendiam itu ternyata juga berperan dalam proses penyelamatanku tadi.
     “Tidak, tidak. Aku baik-baik saja,” sahutku. “Terima kasih, kalian berdua sudah menolongku.” Aku berusaha menarik ujung-ujung bibirku agar membentuk senyuman, tapi tampaknya tidak terlalu berhasil.
     Young-Jun mengangguk, masih sambil menatapku seolah-olah aku baru sadar dari koma selama tujuh tahun atau apa. “Lebih baik kita masuk ke tempat yang lebih aman, sebelum ada fans yang berhasil menerobos kemari,” ujarnya sembari menggenggam tanganku, melingkarkan tangannya yang bebas disekeliling pundakku, DAN memapahku memasuki ruang tunggu keberangkatan internasional.
     Meskipun sikap Young-Jun yang ekstra perhatian ini meninggalkan semburat merah di kedua pipiku, tapi aku yang masih terlalu shock dan tidak punya tenaga untuk menolak, terpaksa menurut saja dipapah seperti itu.
     Sesampainya di ruang tunggu, kami bertiga langsung disuguhi pemandangan khas posko evakuasi gempa bumi. Petugas keamanan terlihat dimana-mana. Belasan petugas berompi oranye yang membawa kotak P3K juga tampak sangat sibuk berkeliaran, seolah-olah baru saja terjadi kecelakaan besar dan mengakibatkan banyak orang terluka. Sementara orang-orang dari rombongan kami, para artis dan staff, terbagi dalam beberapa kelompok besar, sedang berbisik-bisik dengan wajah tegang. Bahkan Cho Kyu-Young dan Park Jung-Soo dari Eleven, serta beberapa artis lainnya tampak sedang diobati oleh petugas medis. Entah kenapa dan bagaimana mereka bisa terluka. Pemandangan ini benar-benar mengherankan.
     Aku masih belum sembuh dari shock ketika tiba-tiba Lee Young-Min menyerbu dengan panik.
     “Hyong! Kenapa lama sekali? Kalian tidak apa-apa, kan? Min-Ho Hyong? Young-Jun Hyong? Kalian baik-baik saja, kan? Tidak ada yang luka, kan?” Ia memberondong kedua pria yang lebih tua darinya itu dengan pertanyaan bertubi-tubi. Tapi sebelum sempat dijawab, Young-Min malah menoleh padaku. “Astaga! Ha-Ra Noona! Aku nyaris tidak mengenalimu! Kenapa wajah Noona pucat sekali? Noona baik-baik saja, kan?” Ia mengguncang-guncang tubuhku, seolah ingin memastikan kalau aku masih bisa bergerak.
     “Aku baik-baik saja, Young-Min,” sahutku.
     “Oh, syukurlah. Tadi waktu melihat Sung-Ki Hyong datang sendirian, kupikir Noona mendapat masalah. Aku sudah takut sekali Noona akan bernasib sama dengan orang dari departemen wardrobe Eleven.” Young-Min menunjuk gadis berambut awut-awutan yang sedang dikerubuti oleh staf lainnya di sudut ruangan.
     “Kenapa gadis itu?” tanya Young-Jun. Wajahnya kembali menegang.
     “Dilempar kotoran oleh salah satu antifans diluar,” sahut Young-Min sambil bergidik ngeri.
     “Antifans?” Min-Ho mengangkat alisnya tinggi-tinggi sampai menghilang dibalik topi yang dikenakannya. “Jadi mereka semua itu antifans? Oh, Tuhan. Pantas saja mereka sangat…”
Sebelum aku sempat mendengarkan kelanjutan kalimat Min-Ho, tiba-tiba seseorang menerjang dan langsung memelukku erat-erat. Aku tidak perlu melihat wajahnya untuk tahu siapa laki-laki yang memelukku itu.
     “Aku tidak apa-apa, Kim Sung-Ki. Aku tidak apa-apa.”
++

Sung-Ki. Summer, 24 Agustus 2008. 
     Seharusnya semua orang tahu kalau yang berkerumun didepan dengan histeris tadi itu antifans, bukan fans. Mereka sama sekali tidak membawa poster, spanduk, hadiah atau apapun yang mencerminkan identitas fans. Teriakan mereka juga bukan teriakan untuk memanggil nama idola, tapi hanya jeritan kosong yang niatnya jelas-jelas hanya untuk membuat keributan.
     “Sepertinya semua antifans dari seluruh artis Fantasy Entertainment berkumpul di airport hari ini! Seharusnya kita tahu dari awal, Hyong! Kalau kita menyiapkan bodyguard lebih banyak pasti kejadiannya tidak akan seperti ini,” keluhku pada Jin-Ni yang sedang diobati oleh petugas medis karena tangannya tergores benda-tajam-entah-apa saat berjuang melawan kerumunan antifans yang gila.
     “Iya, iya! Aku tahu itu, Kim Sung-Ki. Aku tahu kalau kita kurang persiapan, kurang bodyguard, dan kekurangan macam-macam lagi. Tapi kau tidak perlu marah-marah begitu padaku. Memangnya aku yang mengundang para antifans berkumpul disini?” sahut Jin-Ni sambil melemparkan lirikan sebalnya padaku.
Tapi aku tidak peduli. Aku sudah sangat kesal karena seluruh tubuhku sekarang sakit akibat gerakan-gerakan kasar pada antifans diluar, ditambah lagi aku harus kehilangan topiku, dan Ha-Ra juga…. Ha-Ra? Bukankah itu dia? Ha-Ra! Dia sudah datang!
     Tanpa pikir panjang lagi, aku langsung menerjang Ha-Ra yang sedang dikerumuni oleh Young-Min, Min-Ho, dan yang lain. Aku tidak bisa menahan diriku untuk tidak memeluknya erat-erat. Demi Tuhan, aku sama sekali tidak ingin melepaskan gadis itu lagi. Aku tidak ingin dia hilang lagi, dan…
     “Aku tidak apa-apa, Kim Sung-Ki. Aku tidak apa-apa,” bisik Ha-Ra, tepat ditelingaku. Aku masih bisa mendengar suaranya bergetar karena shock, meskipun ia berusaha menyembunyikannya sekuat tenaga.
     “I’m so sorry, Noona. I’m so sorry. Aku benar-benar menyesal tidak bisa melindungi Noona. I’m so sorry,” sahutku cepat, seolah dengan begitu rasa sesal yang bercokol dihatiku bisa cepat menguap.
     “Yah! Sudahlah, jangan begitu. I’m fine,“ sahut Ha-Ra sembari menepuk-nepuk punggungku.
     “Aku seharusnya bisa melindungi Noona. Tadi aku berusaha mencari Noona lagi, tapi terlalu banyak orang dan aku tidak bisa menemukan…”
     “Sudah, sudah. Tidak apa-apa.” potong Ha-Ra. Ia tersenyum sangat manis, jelas sekali berusaha meyakinkanku bahwa dia baik-baik saja. “Lihat, aku tidak terluka sedikit pun. Kau bagaimana? Apa kau tidak apa-apa? Orang yang menubrukmu tadi tidak melukaimu kan?” tanyanya.
     “Tidak, aku tidak apa-apa. Tapi topiku hilang.” Aku tidak bisa menyembunyikan kesedihan dalam suaraku. “Topi pemberian Noona.”
     Ha-Ra kembali mengembangkan senyumnya sembari menepuk-nepuk kepalaku. “Ah, sudahlah. Tidak apa-apa. Besok akan kubelikan lagi yang sama persis. Ya?” ujarnya.
     Tapi aku masih belum bisa tersenyum sama sekali. Rasa sesal masih belum mau pergi dari hatiku. “Maafkan aku, Noona. Aku benar-benar menyesal tidak bisa me…”
     “Kau sudah kumaafkan, Kim Sung-Ki,” potong Ha-Ra cepat. “Yah, kenapa masih cemberut begitu? Smile, smile! Kau tidak cocok dengan wajah ditekuk seperti itu!” Tangannya yang semula diatas kepalaku langsung meluncur turun dan mencubit-cubit pipiku supaya aku mau tersenyum. Tapi usahanya sama sekali tidak berhasil, perasaanku tetap saja tidak membaik.
     “Tapi aku merasa bersalah. Coba kalau Min-Ho dan Young-Jun Hyong tidak menyelamatkan Noona, mungkin sekarang…” Aku bergidik. Tidak mau membayangkan apa yang akan terjadi pada Ha-Ra dengan agorafobia-nya jika sampai terjebak ditengah lautan manusia.
     “Yah! Aku tidak selemah itu! Aku bisa membawa diriku selamat sampai disini kalaupun tidak ada yang menolong!” Ha-Ra tertawa kecil, berusaha tampak ceria. Tapi aku bisa mendengar suaranya masih bergetar sedikit. “Sudahlah, kumohon hentikan rengekanmu ini.”
     “Tapi aku masih ingin menebus dosa!” Aku bersikeras.
     “Oh, stubborn boy!” Ha-Ra menyentil pelipisku lembut. “Baiklah, ingin menebus dosa ya? Buat aku senang, kalau begitu!”
     “Bagaimana caranya?” Aku mengangkat alis mendengar ada kemungkinan untuk menebus kesalahanku tadi dan membuat Ha-Ra senang.
     “Mmm.. Gom Se Mari?” sahut Ha-Ra sembari tersenyum jahil.
     Aku membelalakkan mata mendengar jawaban Ha-Ra. “Gom Se Mari? Aku harus menyanyi dan menari sekarang? Disini?” tanyaku.
     “Tentu saja, memangnya dimana lagi?” Ha-Ra balas bertanya, senyum jahilnya masih tersungging.
     “Ah, Noona ini seperti Hyun-Ji Hyong saja, kalau menghukum orang pasti disuruh menyanyi dan….”
     “Mau atau tidak?” potong Ha-Ra tak sabar. “Kalau tidak mau, ya sudah. Tidak usah minta maaf lagi padaku!”
     “Iya, iya, baiklah…” Aku mendengus dan melirik sekeliling ruangan, memastikan tidak ada yang memperhatikan, lalu mulai menyanyi dan menari. “Gom se mariga han jibe isseo, appa gom eomma gom agi gom… Appa gomeun dungdunghae… Eomma gomeun nalsshinhae… Agi gomeun neomu gwiyeowo… Eusseuk eusseuk chalhanda!”
++
Author’s Note :
Maafkan aku kalo update-nya lamaaaa banget. Bener-bener chapter yang berat, soalnya tenggelam ditengah tugas-tugas dan ujian akhir. Untung sekarang udah selesai. Aku kebuuut deh sebagai permintaan maaf. Enjoy the chapter!

Eleven : another korean idol group (fictional) yang ceritanya satu manajemen sama New High. Cerita tentang Eleven bisa dibaca di upcoming fanfic-ku yang entah kapan akan selesai. hahaa~
Gom Se Mari : 3 Little Bear Song, lagu anak-anak dari Korea Selatan. kalo udah pada pernah nonton Full House pasti tau deh, yang Han Ji-Eun nari-nari itu lho. ini terjemahannya: “There are three bears in a house. Daddy bear, Mommy bear, Baby bear. Daddy bear is fat. Mommy bear is slim. Baby bear is too cute. Shrug – shrug, You’re doing well!”

There’s Something Between Us [CHAPTER 12]

CHAPTER 12

theres something-chap 12

Ha-Ra. Summer, 24 Agustus 2008.
          “Ngantuk sekali…” Aku bergumam pada diriku sendiri, setelah menguap untuk yang ketujuh kalinya pagi ini. Kepalaku masih terasa berat. Mataku belum bisa membuka sepenuhnya. Cuaca mendung juga sangat mendukung. Rasanya benar-benar ingin kembali ke tempat tidur dan berlindung dibalik selimut yang hangat. Sayang sekali, pekerjaanku tersayang justru menuntutku berada di ruang pakaian di apartemen New High untuk mengecek ulang perlengkapan yang akan dibawa ke Thailand.
          Sejak pukul enam tadi, aku, Seul-Hee dan beberapa staf wardrobe lainnya sudah sibuk sekali. Kami benar-benar harus mengecek satu per satu barang yang sudah dimasukkan ke dalam koper, dan mencocokkannya dengan yang ada di daftar yang ditulis Son Hye-Jin, agar tidak ada satupun yang tertinggal.
          “Selamat pagi, Ha-Ra ssi…” Tiba-tiba seseorang menyapaku.
          Aku menoleh cepat dan mendapati Young-Jun berdiri di depan pintu sambil tersenyum menatapku. “Oh, selamat pagi, Young-Jun ssi..” Aku mencoba tersenyum meskipun seluruh syaraf-syarafku menegang.
          “Kenapa sendirian?” tanya Young-Jun. “Dimana Seul-Hee ssi dan yang lainnya?”
          “Mereka…” Aku memandang berkeliling, dan langsung disergap kepanikan. Ke mana perginya semua orang-orang itu? Kenapa tiba-tiba menghilang dan meninggalkan kami berdua?
          “Mungkin mereka sedang sarapan ya?” Young-Jun menjawab pertanyaannya sendiri, sementara aku membeku ditempat. “Jin-Ni baru saja membeli burger untuk sarapan semua orang. Ha-Ra ssi sudah sarapan?”
          “Belum…” sahutku gugup. Entah kenapa, rasa percaya diriku yang biasanya membentuk benteng kokoh, selalu saja runtuh saat berhadapan dengan pria itu.
          “Kalau begitu, sebaiknya kita ke ruang makan sekarang, sebelum burgernya habis.” Young-Jun tersenyum lagi sambil menyingkir dari depan pintu agar aku bisa lewat. Gesturenya sangat memaksa, aku tidak bisa menolak.
          Kukira perasaanku akan lebih baik di ruang makan yang ramai. Tapi sayang sekali, ruang makan yang menyatu dengan dapur itu sama kosongnya dengan ruang pakaian. Sementara burger-burger yang dibeli Jin-Ni masih menggunung diatas meja, tampak belum tersentuh sama sekali. Dan kami, aku dan Young-Jung, lagi-lagi hanya berdua dalam keheningan yang canggung.
          Aku mendengus sepelan mungkin. Sangat tidak nyaman berduaan saja dengan Young-Jun seperti ini. Bukan karena orangnya bau atau tidak menyenangkan. Tapi perasaan malu dan salah tingkah yang menyergapku lah yang membuatku tidak nyaman. Apalagi setelah kejadian tadi malam, saat dia tiba-tiba muncul dengan mobilnya dan memaksa ingin mengantarku pulang. Tapi akhirnya kami hanya terjebak dalam perjalanan lima menit yang canggung karena tidak ada satupun dari kami yang memiliki topik yang cukup asyik untuk dibicarakan. Benar-benar tidak nyaman dan memalukan.
          “Mmm, sebaiknya aku kembali ke ruang pakaian… Masih ada beberapa barang yang perlu dicek…” Aku berbohong, agar tidak perlu berlama-lama lagi dengan Young-Jun dan tersiksa oleh perasaanku sendiri.
          “Tapi kau belum sarapan,” cegah Young-Jun. Ia menyodorkan setangkup burger padaku, lalu membukakan kursi. “Duduk dan makanlah dulu.”
          “Tapi aku…” Aku tengah memikirkan kebohongan berikutnya, ketika tiba-tiba Sung-Ki –yang masih acak-acakan karena baru bangun tidur- muncul di ruang makan.
          “Selamat pagi, Hyong! Oh, Ha-Ra Noona juga sudah disini?” Ia mengangkat alis ketika melihatku. Sementara aku balas memandangnya dengan penuh terima kasih karena sudah menyelamatkanku dari suasana yang kaku, sekalian mengagumi betapa ia tampak sangat menggoda dengan rambut yang berantakan seperti itu.
          “Pagi,” sahut Young-Jun. Nada suaranya terdengar sedikit aneh. Entah kesal atau apa, aku tidak bisa menebak. “Kenapa kau masih memakai piyama? Cepat mandi dan bersiap-siap, satu jam lagi kita berangkat ke bandara,” lanjutnya. Masih dengan nada bicara yang sama.
          “Kamar mandinya sedang dipakai Young-Min. Aku ingin sarapan dulu,” sahut Sung-Ki sembari medekati meja makan. “Oh… ada burger! Banyak sekali… Hyong yang membelinya?” Ia menyambar setangkup burger dengan antusias, sambil terus mengoceh.
          Aku mengambil kesempatan itu untuk menyelinap kembali ke ruang pakaian. Aku lebih baik memakan burgerku di ruangan sempit yang penuh sesak itu, ketimbang harus terjebak di ruang makan bersama Young-Jun dan Sung-Ki. Tapi entah kenapa, hari ini ketenangan sedang tidak mau menghampiriku. Belum selesai aku mengunyah burger hasil gigitan pertamaku, lagi-lagi terdengar langkah kaki mendekati ruang persembunyianku.
          “Noona, kenapa tidak sarapan bersama kami di ruang makan?”
          Aku menoleh untuk memastikan suara yang kudengar memang milik orang yang sedang kubayangkan. Ternyata benar, Kim Sung-Ki berdiri di depan pintu, persis di tempat Young-Jun berada tadi, dan sedang menatapku dengan caranya yang biasa. Cara yang selalu membuatku berpikir bahwa dia sedang berusaha merayuku bukannya bertanya.
          “Aku masih harus mengecek beberapa barang lagi,” sahutku sambil mengerling koper-koper besar dihadapanku yang masih menunggu untuk dibereskan.
          Sung-Ki duduk bersila disampingku, sambil mengunyah burgernya. “Ini semua yang akan dibawa ke Bangkok? Banyak sekali…”
          “Kalian akan berada disana satu minggu. Kalau satu hari saja kalian datang ke dua acara, itu artinya dua kali ganti baju, sepatu, dan aksesoris. Belum lagi saat Fantastic Concert nanti… aku sudah menyiapkan delapan stel pakaian untuk kalian.” Aku menjelaskan, sambil menggigit burgerku sendiri.
          “Aigoo… di Bangkok nanti aku pasti akan sibuk sekali berganti baju..” Sung-Ki memutar bola matanya, lagaknya seperti orang paling lelah diseluruh dunia ini.
          “Aku yang lebih sibuk lagi memberi pakaian untuk kalian,” sahutku, tidak mau kalah.
          Sung-Ki tertawa, dan obrolan pun berlanjut sementara kami menghabiskan burger masing-masing. Berada dalam satu ruangan dengan Sung-Ki, rasanya seribu kali lebih mudah daripada saat bersama Young-Jun. Sung-Ki lebih banyak bicara, topik yang diajukannya selalu berhasil menciptakan obrolan yang panjang dan menyenangkan. Sikapnya yang sangat terbuka dan tidak malu-malu juga membuatku sama sekali tidak sempat merasa canggung. Bahkan aku merasa sangat nyaman. Jauh lebih nyaman dibandingkan saat aku bersama teman-teman wanitaku sekalipun.
          “Sung-Ki Hyong! Aku sudah selesai…” Tiba-tiba suara Young-Min yang berat terdengar entah dari mana, memutus obrolan kami yang sedang seru-serunya tentang apakah Thailand mengalami musim dingin yang bersalju atau tidak. “Hyong  mau mandi tidak? Kalau tidak, Jong-Su Hyong akan merebut kamar mandinya…”
          “Andwae!” Sung-Ki melompat berdiri. “Jangan biarkan Jong-Su merebut kamar mandinya! Aku akan mandi sekarang!” serunya sambil berlari keluar. Tapi begitu sampai di pintu, ia menoleh lagi padaku dan mengedipkan sebelah matanya, lalu tersenyum lebar.
          “Aku akan segera kembali dengan penampilan yang lebih keren. Bersiap-siaplah, Noona pasti akan terpesona padaku!” ujarnya dengan nada yang sangat sangat menggoda, lalu melesat pergi.
++

Sung-Ki. Summer, 24 Agustus 2008.
          Van yang kami tumpangi semakin melambat ketika memasuki gerbang Incheon Airport. Semua orang sudah menyambar tas masing-masing dan bersiap-siap turun ketika tiba-tiba mataku menangkap pemandangan mengerikan : lautan fans yang berkerumun tepat di depan pintu keberangkatan internasional. Kali ini aku tidak melebih-lebihkan. Jumlah mereka banyak sekali,  benar-benar pantas disebut lautan fans.
          Aku tahu kalau hari ini kami akan berangkat bersama banyak sunbaenim yang lebih terkenal, yang punya ratusan atau mungkin ribuan fans fanatik dan penguntit. Tapi aku sama sekali tidak menyangka kalau fans yang datang jumlahnya akan sebanyak ini.
         Melihat keadaan itu, aku spontan berdiri dan mengulurkan tangan pada Ha-Ra yang duduk disebelah Young-Min. “Pegang tanganku dan jangan sampai lepas. Aku tidak mau Noona hilang ditelan lautan fans,” ujarku.
          Tapi gadis itu malah menepis tanganku sambil tertawa. “Astaga! Tidak perlu berlebihan, aku bisa menjaga diriku sendiri,” sahutnya. “Kau seharusnya mengkhawatirkan keselamatanmu sendiri, kan kau yang selebriti. Kalau aku sih, jalan-jalan santai disana juga tidak akan ada yang peduli.”
          “Apa Noona tidak ingat kejadian yang menimpa staff manajemen DBSK bulan lalu? Dia dicegat ratusan fans yang ingin menitipkan hadiah mereka, dia benar-benar ternggelam dalam lautan para gadis remaja yang histeris, sampai-sampai pingsan karena kekurangan oksigen.” Aku berusaha menyusun kata-kataku sedramatis mungkin untuk menakut-nakutinya. “Aku benar-benar tidak mau Noona mengalami hal seperti itu.”
          “Tenggelam dalam lautan gadis remaja yang histeris?” Ha-Ra tertawa kecil. “Bahasamu itu seperti sedang membuat puisi saja!”
          “Noona, aku serius. Kita sudah hampir sampai, pegang tanganku,” ujarku, agak jengkel sambil kembali mengulurkan tangan.
          Namun Ha-Ra tetap tak bergerak sedikitpun. Selama beberapa saat, ia hanya menatapku dengan tatapan-tak-tertebaknya yang biasa, sementara aku terus menunggu.
          “Tidak mau? Kalau begitu, naik ke punggungku. Lebih baik Noona kugendong saja.” Aku berjongkok di samping tempat duduknya, sebagai usaha terakhirku untuk memaksanya.
          “Apa-apaan itu? Aku tidak mau digendong!” Ha-Ra tertawa lagi, sembari mendorong punggungku.
          “Oke. Kalau begitu, pegang tanganku.” Aku memerintah.
          “Hyong, jangan memaksa Ha-Ra Noona seperti itu.” Tiba-tiba Young-Min si makdongi menatapku dan tersenyum jahil. “Lihat saja, tangan Hyong kasar begitu, seperti pekerja bangunan… tentu saja Ha-Ra Noona tidak mau,” ujarnya.
          “Yah! Aku serius!” Aku menggeram, sudah hampir kehilangan kesabaran.
          Ha-Ra terbahak bersama Young-Min, namun tangannya bergerak cepat menyambar tanganku yang masih terulur.
          Tanpa bicara lagi, kami turun dari van sambil bergandengan tangan, mengikuti Jong-Su, Hyun-Ji, dan Jin-Ni yang sudah turun bersama salah satu bodyguard. Persis seperti dugaanku, ternyata kerumunan fans itu benar-benar gila dan histeris setengah mati. Mereka menjulur-julurkan tangan dengan kalap, seolah ingin mencabik apapun yang berhasil disentuhnya. Aku merapatkan tubuhku pada bodyguard bertubuh kekar yang membukakan jalan, sembari berusaha mempertahankan genggamanku agar tangan Ha-Ra tidak terlepas.
          Setelah rasanya hampir seabad kami berusaha melewati lautan fans, akhirnya pintu masuk ke zona aman terlihat juga. Tapi tiba-tiba, sangat tiba-tiba, seorang gadis gila menerjangku dari kerumunan di sisi kiri. Aku hampir saja  ambruk, kalau tidak ada bodyguard di sisi kanan yang menahan berat tubuhku. Kacamata minus terlempar entah kemana, bersama dengan topi yang kukenakan.
          Selama beberapa detik otakku sama sekali berhenti berpikir. Aku sama sekali tidak tahu harus berbuat apa. Kesadaranku baru kembali lagi ketika para bodyguard mendorongku masuk ke ruang tunggu yang tidak bisa dilewati fans. Tapi sesuatu hilang. Tangan yang tadi kugenggam sudah terlepas. Ha-Ra? Di mana dia?
          “Noona! Noona! Yah! Lepaskan aku, aku harus mencari Ha-Ra Noona!” Tanpa sadar, aku berteriak-teriak sambil berusaha melepaskan diri dari cengkraman bodyguard. Nyaris histeris.
          “Sung-Ki ssi, sebaiknya kau masuk dulu ke tempat yang aman,” sahut laki-laki bertubuh luar biasa besar yang menarik tangan kananku.
          “Tapi Ha-Ra Noona… Bagaimana kalau…” Aku bergumam seperti orang linglung. Sementara kedua bodyguard kekar itu menarikku semakin menjauhi tempat Ha-Ra mungkin berada saat ini. Meninggalkan gadis itu semakin jauh lagi.
          “Siapapun Ha-Ra Noona yang kau maksud itu, dia pasti akan ditolong oleh yang lain. Diluar sana masih ada staf yang lain, dan petugas sekuriti bandara,” sahut bodyguard yang satu lagi, yang berdiri disebelah kiriku.
          “Tapi… tapi…” Saking paniknya, aku sampai tidak bisa menemukan kata-kata.
          “Sekarang, yang paling penting adalah memastikan keselamatanmu.” Bodyguard itu menarik tanganku, memaksaku masuk ke ruang tunggu dan bergabung bersama yang lain.
          Kali ini aku tidak melawan lagi. Tapi aku sama sekali tidak bisa mengabaikan perasaanku sendiri yang masih dicengkeram ketakutan.
++

 

AUTHOR’S NOTE :
Andwae : can’t/tidak
Setelah lamaaa banget kepentok tugas dan writer’s block syndrome, akhirnya chapter 12 ini lahir juga. Maaf kalo hasilnya terlalu pendek, nggak seimbang sama waktu menunggunya, dan mengecewakan.. Maaf juga kalo antara POV-nya Ha-Ra sama Sung-Ki agak meloncat, soalnya ini sebenernya dua chapter pendek yang terpaksa disatuin biar pembaca nggak terlalu gondok. Maaf maaf maaf… Semoga aku bisa menebus kesalahan di chapter-chapter selanjutnya. Oke deh.. enjoy yah!

There’s Something Between Us [CHAPTER 11]

currently listening : T-ARA – Good Person

CHAPTER 11

Sung-Ki. Summer,  23 Agustus 2008.
          Kami sedang berada di ruang ganti. Sebentar lagi giliran kami naik panggung. Semua orang sedang sibuk mempersiapkan diri. Jong-Su sedang memakai headset monitor, Young-Min sedang mengganti kalung, Min-Ho duduk diam dengan gayanya yang biasa, nyaris seperti porselen. Sedangkan Hyun-Ji Hyong… dimana dia? Ah, itu dia. Sedang duduk di sofa besar berwana abu-abu yang mirip sekali dengan sofa di apartemen kami. Kepalanya terkulai ke kanan dan matanya terpejam. Aigoo, apa dia sedang tidur? Sepuluh menit lagi naik panggung dan Hyun-Ji Hyong malah tidur?
          Aku sudah berniat membangunkannya, tapi Ha-Ra tiba-tiba menghampiriku sambil mengomel tentang anting-anting. Karena sedang malas berdebat, akhirnya aku membiarkan Ha-Ra melepas anting-antingku dan mengganti dengan anting-anting pilihannya, seperti biasa. Tapi ternyata yang dipakaikan Ha-Ra adalah anting hola hop luar biasa besar berwarna emas. Aku bisa merasakan anting-anting itu semakin memberatkan telingaku. Semakin lama semakin berat, semakin berat, semakin berat…
          Aku sudah membuka mulut bersiap-siap akan memprotes, ketika tiba-tiba terdengar suara lain. Suara serak seorang lelaki, yang sama sekali tidak bisa kulihat wujudnya.
          “Dia tidur,” kata suara itu, setengah tertawa.
          “Dia pasti terlalu lelah menangis, sampai tertidur pulas seperti ini,” sahut suara lain. Kali ini suara perempuan yang sudah sangat familiar ditelingaku. Ia berbisik sangat pelan, sampai-sampai suaranya nyaris terdengar seperti suara hembusan angin.
          Aku menggerakkan kepala, mencari siapa yang bicara. Hingga akhirnya aku sadar bahwa suara-suara itu berasal dari dunia nyata, sedangkan Ha-Ra dan anting-anting hola hopnya hanya mimpi belaka. Terima kasih Tuhan.
          “Ah, kau membuatnya bangun!” Perempuan tadi bicara lagi, tepat ketika aku mengerjap-kerjapkan mataku.
          “Yah, Sung-Ki ya! Kenapa kau tidur sambil memeluk piala kita?”
          Aku memandang berkeliling dan menemukan wajah Jong-Su sedang tersenyum lebar menatapku. Disebelahnya, Ha-Ra bersedekap sambil memandangku juga. Rupanya mereka yang dari tadi bicara, dan menyelamatkanku dari mimpi buruk tentang anting-anting hola hop.
          “Apa?” Aku bergumam. Kebingungan ketika menyadari bahwa aku sedang berbaring terlentang di sebuah sofa kulit abu-abu, bukannya di kasurku yang empuk. “Aku dimana?”
          “Di apartemen, tentu saja. Memangnya dimana lagi?” sahut Jong-Su sambil tersenyum lebar. “Kau tertidur seperti bayi sambil memeluk piala, setelah membuat heboh dan menangis tersedu-sedu, karena kita memenangkan Hot New Star Award. Ingat?”
          Aku memandangi piala kaca berlogo Mnet yang baru saja direbut Jong-Su dari tanganku, sambil memutar ingatanku seperti film. Kami menghadiri MNet’s 20′s Choice Awards 2008 dan dinobatkan sebagai Hot New Star. Kami mendapatkan piala penghargaan pertama kami, lalu semua orang berpelukan dan menangis bersama. Aku, Hyun-Ji Hyong, dan Jong-Su yang menangis paling kencang. Sementara Min-Ho dan Young-Min, kedua personil termuda itu hanya tertawa lebar dengan mata berkaca-kaca.
          Aku benar-benar terharu. Setelah bekerja tanpa henti selama empat bulan penuh, akhirnya eksistensi kami dalam industri musik mulai diakui. Akhirnya aku bisa membuktikan pada orang tuaku bahwa kepergianku dari Daegu, yang sempat menyulut kemarahan mereka, sama sekali tidak sia-sia. Tapi, ada satu hal yang dikatakan Jong-Su yang menurutku tidak tepat.
          “Seingatku, bukan hanya aku yang membuat heboh dan menangis tersedu-sedu!” protesku.
          “Tapi setidaknya aku lebih dulu berhenti menangis daripada kau,” sahut Jong-Su sambil menjulurkan lidahnya.
          “Tentu saja kau berhenti duluan! Kau kan mulai menangisnya juga duluan,” bantahku, tidak mau kalah. “Kau sudah mulai menangis sebelum kita turun dari panggung! Kau bahkan tidak sanggup mengucapkan sepatahkatapun saat kita seharusnya menyampaikan winning speech, karena tenggorokanmu sudah tersumbat oleh air mata!”
          Jong-Su sudah membuka mulutnya, tampak ingin membalas lagi, namun Ha-Ra mendahuluinya. “Sudah, sudah.. hentikan. Kalian ini, apa tidak bisa tidak bertengkar sebentar saja?”
          “Kami tidak sedang bertengkar, Noona. Kami hanya mengobrol.” Jong-Su nyengir dan merangkul pundakku. “Apa Noona lupa kalau cara mengobrol kami memang selalu seperti ini?”
          “Iya, kalian ini memang benar-benar akur..” Ha-Ra menekankan nada bicaranya pada kata akur, lalu tertawa kecil sambil memandangi kami berdua. “Nah, sekarang sebaiknya kalian cepat berkemas. Besok kita akan berangkat ke bandara pagi-pagi sekali, tidak akan cukup waktunya kalau kalian tidak berkemas sekarang.”
          Aku tiba-tiba merasa linglung. Sama sekali tidak ingat apa yang akan kami lakukan besok pagi, dan kenapa Ha-Ra menyuruh cepat-cepat berkemas. “Memangnya kita akan pergi kemana besok?”
          “Ingatanmu benar-benar payah!” Jong-Su mendecakkan lidah sambil berkacak pinggang. “Bagaimana kau bisa lupa kalau besok pagi kita akan berangkat ke Bangkok? Thailand? Fantastic Concert, ingat?”
          “Aigoo… Aku sama sekali belum berkemas!” Kepanikan tiba-tiba menjalari seluruh syaraf-syarafku saat mengingat hal itu. “Noona, bantu aku! Ayo, bantu aku mengemas pakaian!”
++

Ha-Ra. Summer, 23 Agustus 2008.
          “Ahh… terima kasih banyak! Noona memang baik hati…” Sung-Ki tersenyum lebar sambil menutup kopernya yang sudah terisi penuh. Sementara aku mendengus jengkel.
          Gara-gara anak itu memaksaku membantunya berkemas, aku terpaksa pulang selarut ini. Padahal besok pagi-pagi sekali aku sudah harus kembali lagi ke tempat ini untuk mengecek koper-koper pakaian untuk yang terakhir kali.
          “Ya sudah. Kalau begitu aku pulang dulu,” sahutku. Aku menjinjing tas tanganku dan bersiap-siap keluar kamar, ketika Jong-Su yang sudah berbaring di tempat tidurnya, menyibak korden lalu menoleh memandangku.
          “Tapi diluar hujan deras, Noona,” ujarnya. “Apa tidak sebaiknya Noona menginap disini, lalu pulang besok pagi-pagi sekali?”
          “Menginap? Memangnya kau pikir aku akan tidur dimana? Di sofa?” Aku mengangkat alis.
          Jong-Su nyengir, sementara Sung-Ki menyambar cepat, “Aku tidak keberatan berbagi tempat tidur,” sahutnya asal.
          “Oh, terima kasih. Kau baik sekali, tapi lain kali saja.” Aku menyeringai. “Sampai jumpa!”
          Aku sudah sampai di ruang tengah ketika tiba-tiba suara Sung-Ki terdengar lagi. “Noona pulang naik bus?” tanyanya. Ia tampak sedikit cemas, entah karena apa.
          “Tidak, aku akan jalan kaki. Rumahku hanya dua blok dari sini,” sahutku. “Memangnya kenapa?”
          “Jalan kaki hujan-hujan begini? Kuantar saja, ya? Aku bisa meminjam mobil Jin-Ni Hyong,” ujar Sung-Ki.
          Aku tersenyum lalu menggeleng pelan. “Tidak usah. Aku jalan kaki saja. Sudah kubilang, kan, rumahku hanya berselang dua blok dari sini. Jalan kaki sepuluh menit juga sudah sampai,” jawabku.
          “Tapi…”
          “Tenang saja, aku bawa payung kok. Payungku cukup lebar untuk melindungiku dari hujan deras seperti sekarang ini.” Aku cepat-cepat menambahkan, sebelum Sung-Ki semakin memaksa.
          Sung-Ki tampak khawatir. Ia menatapku dengan matanya yang hitam, seolah mencari-cari jawaban yang dapat meyakinkannya bahwa aku bisa selamat sampai rumah jika dibiarkan pulang sendirian. “Ah, baiklah.” Ia akhirnya menyerah. “Tapi, kalau ada apa-apa di jalan… kalau Noona membutuhkan sesuatu, bantuan atau apa… telpon aku. Okay?”
          Aku mengangguk cepat, lalu memamerkan senyum terbaikku. “Sekarang, sebaiknya kau cepat istirahat. Sampai jumpa besok, ya!”
++
Sung-Ki. Summer, 23 Agustus 2008.
          Aku berdiri di depan pintu apartemen sampai Ha-Ra masuk ke dalam lift. Aku sebenarnya sangat ingin mengantar gadis itu pulang. Biar bagaimanapun, aku yang sudah merepotkan Ha-Ra hingga harus pulang selarut ini.
          “Semoga dia sampai rumah dengan selamat…” Aku berbisik pada diriku sendiri sambil berbalik, dan melangkah kembali ke apartemen. Namun, sebelum aku sempat menyentuh pintu, Young-Jun tiba-tiba keluar dari apartemen kami, tampak sedikit panik.
          “Sung-Ki ya, apa kau melihat Ha-Ra ssi?” tanyanya.
          “Ha-Ra Noona baru saja turun dengan lift itu.” Aku menyahut spontan, tanpa berpikir. “Ada apa, Hyong? Apa ada barangnya yang tertinggal?”
          “Oh, tidak.. tidak ada apa-apa,” sahut Young-Jun cepat. Ia kembali masuk ke apartemen, menyambar jaket dan kunci mobilnya, lalu memakai sepatu dengan gerakan tergesa-gesa.
          “Hyong, mau kemana?” Aku mulai curiga.
          “Aku tidak kemana-mana…” Lagi-lagi Young-Jun menjawab terlalu cepat dan malah membuatku semakin curiga.
          “Tidak kemana-mana bagaimana?”
          “Maksudku… aku hanya ingin membeli sikat gigi di mini market. Persediaan sikat gigiku sudah habs, padahal besok pagi-pagi kita berangkat ke Thailand dan aku tentu akan membutuhkan sikat gigi baru untuk dipakai disana.” Young-Jun tampak memaksakan senyum, tapi wajahnya sama sekali tidak tampak santai. “Aku pergi dulu, ya.. Kau sebaiknya cepat tidur, agar tidak kesiangan!”
          Setelah mengeluarkan serentetan kata-kata bernada panik itu, Young-Jun langsung menghilang di balik pintu, meninggalkan aku yang masih mengernyit. Tentu saja aku tidak bisa percaya pada kata-katanya. Kenapa ia tiba-tiba ingin membeli sikat gigi setelah mengetahui bahwa Ha-Ra baru saja pulang? Apa Young-Jun diam-diam juga ingin mengantar Ha-Ra pulang? Apa diam-diam dia…
++

 

Author’s Note:

Mnet adalah stasiun televisi kabel Korea Selatan yang menayangkan acara musik dan hiburan. Mnet 20′s Choice Awards adalah acara penghargaan yang diadakan Mnet setiap tahunnya. (source: Wikipedia)