“Aku terlanjur cinta kepadamu, dan t’lah kuberikan seluruh hatiku.”
- Rosa & Pasha UNGU, Terlanjur Cinta

“Aku terlanjur cinta kepadamu, dan t’lah kuberikan seluruh hatiku.”
- Rosa & Pasha UNGU, Terlanjur Cinta
Masih kuingat betul hari itu. Satu waktu ketika seluruh mahasiwa baru dikumpulkan di satu ruangan, disodori kertas penuh tulisan-tulisan yang cukup memualkan. Aku tidak cukup peduli pada orang disekitarku kala itu, sampai akhirnya penghapus karetku yang butut melompat kabur dari meja, cukup jauh diluar jangkauan tanganku.
Lalu, bak adegan di film cinta tahun 70-an, kau menoleh dan dengan baik hati memungut penghapus karetku. “Makasih,” ujarku kala itu, lalu sibuk kembali dengan paragraf-paragraf memusingkan di kertasku.
Tak terasa, waktu cepat sekali berlalu. Rasanya baru kemarin aku tahu namamu, tahu dimana tempat tinggalmu, tahu tanggal ulang tahunmu, dan sekarang kau sudah merayakan ulang tahun keempat (atau lima?) sejak pertemuan pertama itu.
Selamat ulang tahun, sahabatku. Gapai cita dan cintamu, semoga Tuhan selalu melindungimu, dan aku selalu merindukanmu.
Tertanda,
Seorang sahabat yang selalu menganggapmu sangat berarti.
*Surat cinta ini mohon dikirimkan ke salah seorang sahabat terbaik yang sedang merayakan ulang tahunnya hari ini. Berikut saya lampirkan juga titipan doa untuknya :D terima kasih.
(alamat surat: @citracit)
Kepada Yth. Tuhan Yang Maha Esa,
Terima kasih atas nafas yang Kau berikan padaku hari ini. Terima kasih sudah mengijinkanku bangun di pagi hari, menjalani hari yang melelahkan ini dengan kedua kaki, kedua tangan, kedua mata dan seluruh panca indera yang bisa bekerja sempurna. Terima kasih sudah mengijinkanku merasa lelah, sampai akhirnya aku bisa mensyukuri betapa nikmatnya pulang ke rumah, istirahat dan berkumpul bersama orang-orang tercinta.
Terima kasih, Tuhan. Tolong ijinkan aku bangun, bernafas dan bekerja lagi esok hari.
Hormat saya,
HambaMu.
Untuk kamu,
Maafkan. Aku terlalu cinta.
Maafkan. Kalau cinta yang terlalu itu akhirnya merusak semua.
Maafkan, dan tolong ambil saja semua hatiku, buang jauh. Kalau hati yang terlalu ini akhirnya hanya menghancurkan.
Maafkan. Maafkan. Maafkan.
Dari,
Aku yang terlalu cinta.
Dear Tante Jum,
Terima kasih sudah melahirkan anak laki-laki yang luar biasa ke dunia ini, 23 tahun yang lalu. Anak itu yang mengajari aku caranya mencintai, caranya menghargai dan mensyukuri suatu hubungan. Dia juga yang memberikan aku banyak tawa dan cinta yang luar biasa. Tanpanya, aku nggak tau seperti apa hidupku sekarang, dan nanti.
Tolong sampaikan padanya ucapan selamat ulang tahun dariku. Semoga panjang umur, sehat selalu dan bisa menggapai semua angan yang ia cita-citakan dengan lancar. Sampaikan juga peluk dan cium untuknya, dari aku yang selalu dan akan terus mencintainya.
Terima kasih, Tante Jum.
Love,
Aku.
*Kepada Yth. Tukang Pos Cinta, maafkeun karena surat cintaku kali ini nggak sesuai tema. Tapi tolong sampaikan pada yang bersangkutan, yang sedang berulang tahun hari ini. Terima kasih.
(alamat surat: @wigatama)
Teruntuk hujan sore ini,
Terima kasih sudah menyegarkan dedaunan, menyejukkan ruangan tanpa AC, dan mencucikan mobil Bapak yang belum sempat dibawa ke car wash.
Love,
Pecinta Hujan
Dear ‘Mas’ tersayang,
Terima kasih untuk banyaknya tawa hari ini, esok dan selamanya.
Love,
‘Adek’
*surat cinta ini ditulis sangat singkat bukan karena si penulis malas, sibuk, atau asal nulis seadanya. Satu kalimat itu sesungguhnya sangat mewakili isi hati. Sekian dan terima kasih.
Dear Pak Supir Taksi Bertopi Kuning,
Terima kasih sudah mengantarku di sore itu, ditengah hujan, selamat sampai lapangan softball, khusus untuk menemui orang yang kuanggap sangat spesial, meskipun akhirnya juga cintaku bertepuk sebelah tangan. Terima kasih sudah diam, tanpa tanya, meskipun isak tangisku yang mengiringi perjalanan sore itu tak kunjung berhenti.
Terima kasih, Pak, semoga rejeki selalu lancar, deras mengalir, sederas hujan yang mengiringi air mataku sore itu.
Love,
Penumpang yang menangis tiada henti
Ketika seseorang sudah mempertaruhkan segalanya, sudah memberikan segalanya, mengorbankan segalanya, melakukan segalanya… dan di akhir cerita, ia tetap tidak bisa berlindung dalam pelukan yang abadi, lalu… apa lagi yang harus dilakukannya?
Ketika seseorang sudah kehilangan harga dirinya… dan di akhir cerita, ia tetap tidak mendapatkan apa keabadian yang diinginkannya, lalu… apa lagi yang harus dipertahankan?
Ketika seseorang sudah menyerahkan hatinya… dan di akhir cerita, tetap dihancurkan menjadi ribuan kepingan, lalu… apa lagi yang bisa membuatnya kembali merasakan cinta?
Ketika sudah seperti ini… lalu, apa?
Pertama-tama, mari kita ucapkan selamat natal bagi teman-teman yang merayakan! Hip hip huraaa! Semoga mendapat berkah dan kebahagiaan seperti yang diharapkan. Amiiiiin…
Kedua-dua, postingan ini isinya total curhat. Get ready!
Jadi, ceritanya, malam ini dalam perjalanan pulang dari bergembira ria di Angkringan Kopi Joss bersama pacar dan sepupunya pacar dan pacarnya sepupunya pacar (singkatnya, double date lah), si pacar muter CD “Love Theory” kepunyaan si Abdul & The Coffee Theory. Lagu yang pertama berdendang di telinga tentunya si track 1 yang judulnya “Aku Suka Caramu”, musiknya enak, suara penyanyinya enak juga, tapi entah kenapa aku empet denger liriknya yang kira-kira seperti ini :
Aku suka caramu membuatku tersenyum saat hari ku kelabu
Aku suka caramu tertawa riang saat kau datang menyambutkuAku suka semua perhatianmu
Aku suka caramu menjaga diriku
Aku suka semuanya tentangmuEngkau dan aku tercipta untuk jadi satu
Engkau dan aku, ku kan selalu jadi milikmuWalau waktu berputar, cinta kita ‘kan bersinar selamanya
Aku suka semuanya tentang kamuAku suka caramu menahan diriku saat ku ‘kan pergi jauh
Aku suka caramu membuatku cemburu ‘tuk dapat perhatiankuAku suka caramu memanjakanku
Aku suka caramu meyakinkan aku, saat aku merasa ragu
Dan masih panjang lagi sebenernya, tapi nggak penting-penting amat lah untuk ditulis semua ya. Intinya, sewaktu denger lagu itu, reaksi spontanku dalam hati adalah ”MEH!” dan langsung melengos ke luar jendela. Why oh why? tanyaku pada diri sendiri. Lagunya manis, gitu. Maniiiiis banget, seneng banget pasti kalau ada yang nyanyiin lagu itu buat aku. Tapi justru itulah poinnya, kenapa “meh!” yang keluar dan bukannya “oh so sweet!”, karena… liriknya terlalu gombal. Lagu itu dengan gampangnya memunculkan pertanyaan di kepalaku : “ADAKAH laki-laki yang bener-bener suka cara seseorang (dalam konteks ini perempuan) dalam memperlakukannya?” Suka caranya tertawa sih masih umum, apalagi suka cara memanjakan dan memperhatikan, siapa juga yang nggak suka dimanjakan dan diperhatikan. Tapi “suka caranya membuatku tersenyum saat hariku kelabu”? Really? Mencerahkan hari seseorang yang udah terlanjur kelabu itu susahnya minta ampun lho, aku butuh putar otak 360 derajat dan kadang masih nggak nemu juga caranya. Dan “suka caramu membuatku cemburu”? YANG BENER? Adakah laki-laki yang seperti itu? Rasanya nggak. Yang ada laki-laki itu cuma tiga jenis. Satu, yang nggak cemburuan babar blas, mau ada Prince William dateng dan ngelamar pacarnya pake cincin batu safir bertatahkan berlian pun dia lempeeeeng aja. Dua, yang cemburuan paraaaaah dan posesif amit-amit sampai pacarnya kemana-mana ditempel. Tiga, yang sebenernya cemburu tapi gengsinya selangit untuk ngomong, jadi sok lempeng aja walau dalam hati cenat cenut. Dan setahuku, nggak ada satupun diantara tiga tipe itu yang SUKA caramu membuatku cemburu aw aw aw… kaya di lagu itu. Jadi menurut kesimpulanku yang bernafaskan kesenewenan, ngawurlah sudah lirik lagunya. Mengada-ada.
Nah, setelah ber-meh ria sepanjang lagu pertama, tiba-tiba entahlah itu track berapa, berkumandanglah lagu yang judulnya “Happy Ending” yang lagi-lagi bikin aku melengos dan mencibir. Liriknya kira-kira semacam ini :
Kaulah yang pertama ingin ku lihat
Saat mentari mulai bersinar
Kaulah yang terakhir ingin ku lihat
Saat ku pejamkan mataIndah matamu, indah wajahmu
Mampu menyinari duniaku
Indah hatimu, indah cintamu
Mampu menyadarkan diriku
Walau tak ada cinta di dunia
Ku kan selalu di sampingmu
Karena kamu, happy ending-ku
“MEH!” ku bahkan lebih keras lagi untuk lagu yang satu ini. Kenapa? Karena menurut aku (yang sedang senewen), lagu ini lebih gombal lagi dari yang pertama. Manis, memang. Tapi kemanisan, terlalu banyak gula, sampai-sampai bikin aku skeptis, BENARKAH ada laki-laki yang bisa mencintai pasangannya seperti di lagu itu? “Walau tak ada cinta di dunia, ku kan selalu disampingmu karena kamu happy endingku” aw aw aw! Adakah yang seperti itu? Benarkah? Adakaaaah, bang Abdul dan teori kopi? Ku-ra-sa-tak-a-da. Karena di dunia percintaan yang fana ini, susahnya minta ampun mendapati akhir yang happy ending. Bahkan nenek kakek yang udah nikah dan bahagia ratusan tahun pun akan tetep dipisahkan oleh kematian. Itu bukan happy ending, kan? Bisa aja sih kalau dibilang nanti ketemu lagi di surga dan bisa bahagia selamanya, tapi mungkin aku terlalu skeptis untuk percaya yang semacam itu.
Nah, setelah beberapa lagu aku melengos melulu, akhirnya sampailah kami pada lagu yang judulnya “Ku Cinta Kau Lebih Dari Kemarin” yang mendadak menyadarkan hati dan pikiranku yang senewen. Di lagu itu bang Abdul mengakui kalau dirinya nggak romantis, nggak segombal lelaki lain, nggak penuh kejutan, nggak bisa mengguncang dunia, dan ke-nggak-bisa-an yang lainnya. Tapi lalu dia bilang gini :
“Ku cinta kau saat ini lebih dari hari yang kemarin. Dan akan kuberikan lebih dan lebih, sampai akhir hayat nanti.”
Oke, bagian sampai akhir hayatnya sih memang agak gombal. Tapi kalimat-kalimat sebelumnya sangat menyentil. Tiba-tiba, di pikiranku yang senewen muncul kalimat “WOW! Kalau itu, aku pernah ngerasain!” Ya, aku pernah (lebih tepatnya, aku sedang) merasakan jatuh cinta setengah mati, yang sepertinya bertambah terus setiap hari. Hari ini lebih dari hari kemarin, sampai rasanya pengen memberikan lebih dan lebih dan lebih, kalau bisa semua yang aku punya, semua yang bisa aku lakukan, kepada oknum yang apes kejatuhan cintaku. Lalu, tiba-tiba terngianglah potongan dari bait terakhir lagu yang dinyanyiin Adele, Make You Feel My Love : “Go to the ends of the Earth for you, to make you feel my love…” yang secara verbal terdengar sama gombalnya, tapi nyata. Paling nggak, pernah dan sedang dirasain sekarang.
Berkat lagu itulah kesimpulanku pada malam ini berubah. Ternyata ini semua bukan persoalan gombal atau nggak, ndobos atau nggak lirik lagunya, toh sebenernya cinta yang sedemikian gombal itu NYATANYA memang ada. Dan sikap yang skeptis itu cuma semacam tameng yang terbentuk dari rasa sirik. Sirik apa? Tentu saja sirik karena belum pernah ada (atau sudah ada tapi aku nggak sadar, entahlah) yang mencintai aku dengan cara-cara yang diungkapkan mas abdul dan teman-teman seperkopiannya. Nggak mutu ya? Tapi memang begitulah rasa skeptis itu terbentuk, paling nggak teori ini berlaku untuk diriku sendiri. Jadi, kesimpulannya, bukanlah lagunya yang gombal. Cuma orangnya aja yang sirik. Karena cinta yang banget banget kaya yang diungkapin di lagu-lagu itu beneran ada. Memang beneran ada.
Pusing kan? Sama. Aku sendiri nggak ngerti dari tadi ngomong apa. Ya sudah, see you later! Salam galau!